oleh

Gubernur Sultra Nilai Ekspor Jambu Mete Butur Contoh Nyata Inspirasi Perkembangan Ekonomi

Reporter : Ferito Julyadi

KENDARI – Awal 2021 memang menjadi lembaran baru. Setelah kehadiran vaksin sinovac di Sulawesi Tenggara (Sultra) menjadi harapan baru untuk kembali memulihkan perekonomian daerah yang memang dipukul telak oleh wabah Covid-19.

Kini perekeonomian memiliki titik terang lainnya, yakni melalui sektor ekspor komoditi.

Dimana Pemerintah Kabupaten Buton Utara (Butur) melalui Koperasi binaan yaitu Koperasi Konami Bina Sejahterah yang berkedudukan di Ereke yang bekerjasama dengan perusahaan nuts Belanda.

Ekspor komoditi Biji Jambu Mete ke negara Vietnam ini dengan nilai yang cukup fantastis. Sebanyak 48 ton Biji Jambu Mete di ekspor dengan nilai ekspor mencapai Rp 1 Milyar.

Pelepasan ekspor ini dilakukan di Pelabuhan Bungkutoko dan menjadi ekspor perdana untuk komoditas pertanian Jambu Mete Kabupaten Butur.

Gubernur Sultra, H Ali Mazi, SH mengatakan komoditas Jambu Mete merupakan salah satu komoditas tanaman perkebunan yang memiliki nilai ekonomis dan cukup potensial karena produksinya dapat dipakai sebagai bahan baku industri

Ia menilai jika ekspor suatu negara meningkat, maka perekonomian negara tersebut akan lebih meningkat karena adanya proses multiplier dalam kegiatan perekonomian, salah satunya ekspor Jambu Mete ini.

Selain itu, Jambu Mete rupanya menjadi tumpuhan masyarakat desa di lahan kering marginal dalam memenuhi kelangsungan hidup.

Ali Mazi mengapresiasi pencapaian ekspor perdana Kabupaten Butur untuk Komoditas Jambu Mete ini.

“Pencapaian ini kami berharap dapat ditingkatkan lagi dan dapat menjadi contoh nyata dan inspirasi bagi pemerintah Kabupaten lainnya di Sultra,” harapnya.

Untuk diketahui, dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra pada periode Januari – November 2020 nilai ekspor Sultra sebesar 409,97 US$. Dimana produk pertanian hanyan menyumbang 0,32 persen.

Tentu dengan pelesan ekspor Jambu Mete ke Vietnam ini dapat lebih meningkatkan nilai ekspor pada triwulan I 2021, khususnya bagi sektor pertanian.

Terkini