oleh

HUT ke 24 PRD, Agus Jabo : Pancasila Sebagai Bintang Arah Bangsa Indonesia

Reporter : Hasrun

JAKARTA – Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD), Agus Jabo Priyono mengungkapkan Pancasila sebagai dasar dan bintang arah Bangsa Indonesia. Untuk itu, ia meminta agar tidak menjadikan Pancasila sebagai alat politik kekuasaan semata serta mempersempit makna Pancasila sebagai alat persatuan yang kaku dan semu.

Hal tersebut ditegaskan Agus Jabo saat pidato perayaan HUT ke 24 PRD di Jakarta pada, Rabu 22 Juli 2020 malam.

“Karena Pancasila sebagai dasar dan bintang arah Bangsa Indonesia, adalah kekuatan untuk menyatukan dan sekaligus mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia,” katanya dalam rilisnya pidato yang diterima MEDIAKENDARI.com. Rabu, 22 Juli 2020 malam.

Menurutnya, pancasila milik seluruh bangsa Indonesia,. Kedepan bisa saja Pancasila menjadi bintang penunjuk arah bagi umat manusia diseluruh dunia untuk membangun kehidupan yang damai.

Ia menjelaskan, PRD memiliki beberapa pandangan diantaranya, pertama, untuk keluar dari kegentingan saat ini, musyawarah mufakat adalah prinsip yang harus selalu dijunjung tinggi, saat ini ada kemendesakan melaksanakan konsensus nasional, untuk menegaskan kembali Pancasila sebagai filosofi, dasar, bintang arah bangsa Indonesia dalam mencapai tujuannya, yaitu masyarakat yang adil makmur. 

Kedua, Pancasila sebagai dasar negara sudah final, tidak relevan untuk diperdebatkan lagi, tetapi tafsir tunggal terhadap Pancasila akan bertentangan dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan demokrasi, karena pada hakekatnya Pancasila juga bersifat dinamis.

Ketiga, setiap warga negara memiliki hak untuk berpolitik dengan menjadikan sila Pertama, sila dedua, sila ketiga, sila keempat maupun sila kelima dari Pancasila menjadi azas perjuangannya. Selama dilakukan dengan cara demokratis, konstitusional dan tidak keluar dari konsensus nasional Pancasila sebagai dasar negara, seperti yang termaktub dalam Preambule UUD 1945.

Keempat, harus ada kesepahaman bahwa sistem liberal kapitalistik secara filosofis, idiologis dan secara ekonomi politik bertentangan dengan Pancasila.

Kelima, merumuskan arah pembangunan nasional, sebagai haluan negara, yang sesuai dengan Pancasila. Keenam, Penyusunan kembali Konsep Kepemimpinan Nasional yang kuat dan mandiri.

Ia menambahkan dunia terus bergerak, zaman terus berubah, sebagai kaum muda Indonesia, ia merasa berkewajiban untuk menyumbangkan pemikiran dan tenaga demi kemajuan, kebahagiaan serta kedamaian hidup umat manusia. 

“Mari dengan Pancasila, kita sampaikan ke dunia bahwa diantara batas Negara, batas kepercayaan dan Bangsa, demi ketentraman hidup. Ada nilai-nilai kehidupan yang harus dijunjung tinggi secara bersama-sama, yaitu kemanusiaan, keadilan, persaudaraan. Agar tercipta perdamaian dunia,” pungkasnya.

Terkini