oleh

Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Bombana Menurun

Reporter: Hasrun
Editor: La Ode Adnan Irham

RUMBIA – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Bombana, Sultra, menurun dibanding tahun lalu. Ada 12 kasus di 2018, 2019 turun jadi sembilan kasus.

“Semoga saja di penghujung tahun ini, tidak ada lagi kasus,” tutur Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Bombana, Hj Sitti Sapiah saat sosialisasi pencegahan kasus tersebut, Minggu malam (15/12/2019).

Tahun 2020, mereka target angka kasus itu kembali menurun. Meski berharap tidak terjadi, paling tidak menekan jumlahnya.

Bupati Bombana, H Tafdil menyebut, sebagai generasi penerus masa depan, keberadaan anak sangat penting dan harus mendapatkan perhatian sangat serius dari Pemerintah.

“Dengan memberikan perlindungan, agar terhindar dari hal-hal yang dapat merusak dan menggangu pertumbuhan anak,” ujar Tafdil di kegiatan yang didominasi pelajar SMa.

Salah satu upaya Pemerintah Kabupaten Bombana mencegah kasus itu, mengadakan lomba yang berkaitan dengan pencegahan kekerasan terhadap anak, serta berkomitmen mewujudkan partisipasi anak dalam pembangunan daerah.

Baca Juga :

“Dalam kegiatan ini, kita berharap agar anak-anak terlibat aktif, sehingga dapat memicu motivasi dalam meningkatkan sumber daya manusia untuk pembangunan daerah,” kata Tafdil.

Ketua Satgas PPA Bombana, Hj Andi Nirwana Sabbu menilai, sosialisasi pencegahan dan perlindungan anak sangat penting. Pasalnya, saat ini kekerasan terhadap anak sering terjadi di mana-mana.

“Makanya kenapa perlunya sosialisasi yang berkesinambungan untuk mencegah itu,” ungkapnya.

Menurutnya, banyak kejadian kekerasan perempuan dan anak yang tidak terlaporkan ke pihak berwajib.

“Dengan sosialisai ini kami berharap nantinya perempuan dan anak yang mendapat kekerasan, agar melaporkan ke Satgas yang di setiap desa. Nanti ditindak lanjuti oleh Kepolisian dan Kejaksaan, di dalam Satgas kam mereka juga ada,” sebutnya.

Fitria Ramadani (17), siswi kelas 12 Keperawatan SMK 02 Bombana, mengapresiasi sosialisasi itu.

“Tidak ada sosialisasi, maka akan semakin banyak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Apalagi di kota-kota yang berkembang,” ucapnya.

Tak hanya itu, ia juga berharap Pemerintah Bombana lebih aktif memperhatikan kekera2san psikis yang sering terjadi di beberapa sekolah.

“Kalau kekerasan fisik jarang terjadi di sekolah, cuma kekerasan psikis sering sekali. Saya berharap pemerintah lebih memperhatikan kekerasan pada anak dan kasus bulying (perundungan),” harapnya. (A)

Terkini