Reporter: Ardilan
Editor : Def
BAUBAU – Rumah Sakit (RS) Siloam Buton, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra) hingga kini belum bisa menerapkan tranplantasi ginjal bagi pasien penderita gagal ginjal untuk daerah Kepulauan Buton (Kepton). Hal tersebut dikarenakan masih minimnya fasilitas yang tersedia di RS tipe C ini.
Baca Juga :
- BGN Tekankan Pentingnya Keamanan Makanan di wilayah SPPG Konawe
- Insiden Ayam Suwir di SPPG Wonggeduku, Masyarakat dan Mahasiswa Desak Kordinator Wilayah Konawe MBG dan Pihak Yayasan Ganti Tim Dapur
- Dapur Umum Konawe Evaluasi Setelah Insiden Ayam Suwir Basi
- BPR Bahteramas Konawe Siap Kawal Visi-Misi Pembangunan ‘Konawe Bersahaja’ 2025–2030 Bebas Narkoba
- Wakil Bupati Konawe Tekankan Pentingnya Pencegahan Narkoba untuk Masa Depan Generasi Emas
- Komitmen Kesehatan Nyata, Bupati Konawe Resmikan Puskesmas di Lambuya
Salah satu dokter di RS Siloam, dr. Denny Emilius mengatakan, pihaknya belum bisa menerapkan transplantasi ginjal karena masih minimnya fasilitas dan tenaga ahli di RS Siloam.
“Transplantasi ginjal belum bisa kita lakukan karena keterbatasan fasilitas serta tenaga ahli. Jadi di Siloam kita cuma melakukan cuci darah bagi penderita gagal ginjal,” ucap dr. Denny kepada sejumlah wartawan digiat media Gathering disalah satu tempat di Baubau, Kamis (14/3/2019) malam.
Selain transplantasi, bagi penderita gagal ginjal, kata dia, satu-satunya cara pengobatan penyakit ginjal ialah Hemodialisis (cuci darah, red) yang rutin. Pihaknya melayani pelayanan cuci darah selama enam hari dalam sepekan yakni, Senin sampai Sabtu.
“Cuci darah ini ditanggung Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Kalau yang tidak punya BPJS itu, untuk RS tipe C seperti Siloam biaya sekali tindakan cuci darah Rp 1,6 juta,” ujarnya.
Dia menjelaskan, penyebab seseorang menderita gagal ginjal beragam, mulai dari diabetes, kencing manis, hipertensi atau tekanan darah tinggi, kista dan infeksi disekitar ginjal.
“Diabetes menjadi menyebab paling besar gagal ginjal yakni sekitar 43 persen. Gagal ginjal ada dua yaitu akut yang gejalanya secara tiba-tiba serta kronik atau bawaan. Kalau sudah kronik harus cuci darah supaya racun dalam ginjal bisa keluar,” urainya.
Baca Juga :
- Pacar Hamil Jadi Pemicu, Dua Oknum TNI Habisi Nyawa Wanita di Baubau
- Kenalan di Aplikasi OMI, Remaja 19 Tahun Jadi Korban Rudapaksa Usai Diajak Joged
- Kawan Inspirasi Kendari Sukses Gelar Sapa Pulau Baubau 3.0: Dorong Pendidikan Inklusif dan Pengembangan Karakter Pelajar
- Kemenkumham Sultra Bahas Progres Pembentukan Posbakum di 17 Kabupaten/Kota: Dorong Akses Hukum untuk Semua
- Rayakan HUT ke-484 Baubau, Bank Sultra Tunjukkan Kepedulian Lewat CSR dan Kerja Sama Strategis
- Jaksa Masuk Sekolah, Cara Kejari Baubau Tanamkan Kesadaran Hukum Sejak Dini
Dia menambahkan, gagal ginjal kronik atau faktor turunan menjadi persoalan paling sulit untuk diatasi. Dia juga menerangkan, saat ini tercatat 30 pasien penderita gagal ginjal rutin cuci darah di RS Siloam dari tahun-tahun sebelumnya. Dimana, satu diantaranya telah kirim untuk mengganti ginjal ke Jakarta.
“Karena belum ada fasilitas untuk transplantasi ginjal serta tidak ada tenaga ahli untuk menangani itu jadi kita kirim kesana. Pelayanan cuci darah mulai kami lakukan sejak tahun 2017 lalu. Tiap tahun meningkat 53,5% sampai 60%. Tapi cuma 53,5% saja yang mau melakukan cuci darah,” tandasnya. (A)











