MEDIAKENDARI.COM – Klinik kesehatan masyarakat di beberapa kota seperti Rio de Janeiro melaporkan terjadinya lonjakan sejumlah arbovirus yaitu virus yang ditularkan oleh nyamuk. Salah satu jenis nyamuk itu menjadi penyebab utama penyakit tersebut. Para peneliti di Brazil menciptakan sejumlah perangkap nyamuk sebelum menyerang.
Aedes Aegypti atau nyamuk Yellow Fever lebih dari sekadar gangguan. Kemungkinan nyamuk itu membawa bibit penyakit yang dapat mengancam jiwa seperti demam berdarah, zika, atau chikungunya.
Garcia Vergara, salah seorang dokter mengemukakan, “Nyamuk tersebut punya banyak cara untuk bersembunyi dan bereproduksi. Selama sarangnya tidak dibasmi dari lingkungan sekitar, mereka akan terus bersarang di sana.”
BACA JUGA :
- Tak Miliki PKKPRL dan AMDAL, Izin Tersus PT TMN Dicabut Kemenhub Tapi Masih Ngeyel Beroperasi – GERAK Sultra Desak Kejati Turun
- Proyek Hilirisasi Miliaran Dolar Terancam Seret, Komisi XII DPR RI : Kepastian RKAB Harga Mati
- Peringati HUT ke-30, Polda Sultra Gelar Doa Bersama Hadirkan Ustadz Das’ad Latif
- BAHAYA! Truk Bahan Curah Bebas Masuk Kapal Ferry Kendari-Konkep, JPKP Nasional Ancam Lapor Kemenhub
- PT Tiran Group Prioritaskan Tenaga Kerja Lokal, Ribuan Warga Sultra Terserap
- KKJ Sultra Mengecam Keras Kadispar Sultra Menyebut Wartawan Idiot
Sejumlah dokter kesehatan mencurigai lebih dari satu juta (1,1 juta) kasus demam berdarah terjadi di Rio de Janeiro dengan hampir empat ratus (sekitar 388) kematian hanya dalam paruh pertama tahun 2019. Terjadi peningkatan seratus enam puluh tiga persen (163%) dari tahun lalu.
Ivo Carlos Correa, profesor kedokteran gigi di University of Brazil mulai mencari cara untuk mencegah agar anaknya yang masih kecil tidak terjangkau oleh nyamuk Aedes.
“Grafik ini menunjukkan nyamuk betina yang menularkan beberapa penyakit terkait arbovirus ternyata peka terhadap cahaya,” ujar Correa.
Prof. Correa menemukan hasil studi yang dimuat di sebuah jurnal kesehatan mengenai sensitivitas nyamuk terhadap cahaya. Ivo Carlos siap memasang perangkap, tapi ia perlu bantuan juga persediaan umpan yang terus-menerus. Jadi, Carlos kemudian kembali ke departemen kimia kampus tersebut.
Di sana, Ivo Carlos Correa bertemu dengan seorang pakar penangkaran nyamuk, Profesor Monica Ferreira Moreira yang meneliti berbagai efek zat pada anatomi tubuh dan penangkaran nyamuk untuk diuji dengan lampu ciptaan Prof. Correa.
“Kami melakukan tiga percobaan dengan berbagai intensitas dan warna gelombang cahaya. Beberapa hasilnya berbeda. Sejumlah perangkap berlampu hijau dapat menangkap sebagian besar nyamuk, 19 dari 20 ekor nyamuk,” kata Moreira.
Arbovirus tersebut dapat menyebabkan sakit kepala, nyeri otot, pembengkakan sendi, dan ruam yang juga berisiko tinggi pada bayi baru lahir dan orang dewasa lanjut usia.
Maria Lopes yang ibu dan anak perempuannya terjangkit Chikungunya mengungkapkan, “Saya tidak terkena chikungunya. Ayah saya juga tidak, tapi ibu dan putri saya serta banyak tetangga kami terjangkit penyakit itu. Saya tidak mengerti, dan saya pikir perangkap nyamuk itu efektif.”
Kelompok sejumlah peneliti itu berhasil mendapatkan sebuah hak paten dunia yang saat ini sedang bernegosiasi untuk produksi dengan industri lokal. Sementara Aedes termasuk jenis serangga tropis, maka iklim yang kian hangat bisa segera membuat tempat-tempat yang sebelumnya bebas kemudian jadi sarang bagi nyamuk tersebut. (mg/al)











