INTERNASIONAL – Bagi lebih dari 3,3 juta anak perempuan dan perempuan di Amerika, hubungan seks untuk pertama kalinya terjadi bukan karena suka sama suka dan merupakan pengalaman yang traumatis, demikian menurut sebuah penelitian baru.
“Seorang dokter praktik kemungkinan menjumpai beberapa pasien setiap minggu yang mengalami bentuk trauma ini,” demikian menurut para penulis sebuah studi yang diterbitkan minggu ini di jurnal kedokteran JAMA Internal Medicine.
Para penulis mencatat “gerakan #MeToo telah menyoroti seberapa sering perempuan mengalami kekerasan seksual,” tetapi “tidak ada penelitian terbaru yang mengkaji prevalensi seks yang dipaksakan selama pengalaman seksual pertama anak perempuan dan perempuan atau konsekuensi kesehatannya.”
Lima puluh persen anak perempuan dan perempuan yang melaporkan dipaksa berhubungan seks mengatakan mereka dipaksa oleh seseorang yang lebih besar atau lebih tua. Separuh lebih menggambarkan tekanan secara verbal, dan 46 persen mengatakan mereka dibuat tidak berdaya.
Selain itu, sebanyak 22 persen perempuan melaporkan bahwa mereka dibius, 26 persen melaporkan mereka merasa terancam secara fisik atau tersakiti secara fisik sebanyak 25 persen.
BACA JUGA:
- Tak Miliki PKKPRL dan AMDAL, Izin Tersus PT TMN Dicabut Kemenhub Tapi Masih Ngeyel Beroperasi – GERAK Sultra Desak Kejati Turun
- Proyek Hilirisasi Miliaran Dolar Terancam Seret, Komisi XII DPR RI : Kepastian RKAB Harga Mati
- Peringati HUT ke-30, Polda Sultra Gelar Doa Bersama Hadirkan Ustadz Das’ad Latif
- BAHAYA! Truk Bahan Curah Bebas Masuk Kapal Ferry Kendari-Konkep, JPKP Nasional Ancam Lapor Kemenhub
- PT Tiran Group Prioritaskan Tenaga Kerja Lokal, Ribuan Warga Sultra Terserap
- KKJ Sultra Mengecam Keras Kadispar Sultra Menyebut Wartawan Idiot
Rangkaian persamaan pelakunya adalah gender yang memiliki sedikit perbedaan sosial ekonomi atau ras.
“Hubungan seksual secara paksa dilaporkan oleh perempuan dari semua kelompok ras dan etnis dan sedikit bervariasi berdasarkan status kemiskinan, tingkat pencapaian pendidikan, atau tempat kelahiran,” demikian laporan studi itu.
Dibandingkan dengan perempuan yang secara sukarela menyetujui berhubungan seks untuk pertama kalinya, perempuan yang dipaksa kecil kemungkinannya berkulit putih namun besar kemungkinannya dilahirkan di luar AS, berpendapatan di bawah tingkat kemiskinan dan kecil kemungkinannya berpendidikan perguruan tinggi. [my/pp]











