Segmen Ritel Bank Muamalat Terus Meningkat

Redaksi

KENDARI – Penetrasi segmen ritel Bank Muamalat yang dijalankan konsisten dua tahun terakhir, menunjukkan hasil signifikan dan terus mengalami peningkatan.

Hal itu dilihat dari komposisi penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK), yang didominasi nasabah ritel mencapai 72 persen dari total Rp 45,7 triliun di paruh pertama 2019.

Branch Manager Bank Muamalat Cabang Kendari, Fitrawan mengatakan, tren itu menunjukkan bentuk komitmen perusahaan dan seluruh insan Muamalat, untuk senantiasa memberikan yang terbaik kepada para nasabah dan stakeholder.

Pertumbuhan nasabah ritel Muamalat kata dia, relatif merata pada jaringan layanan, termasuk di wilayah timur indonesia dan di wilayah sulawesi tenggara, yang juga mencetak pertumbuhan pada segmen ritel sangat kentara.

“Naiknya hingga 200 persen dalam dua tahun terakhir,” paparnya dalam keterangan, Minggu (17/11/2019).

DPK Bank Muamalat Cabang Kendari per Oktober mencapai 650 Miliar tumbuh lebih dari Rp 100 Miliar dibanding 2018.

Lanjut Fitrawan, catatan impresif itu merupakan bentuk kepercayaan nasabah terhadap Muamalat yang kian tinggi, dibarengi penyediaan layanan perbankan yang makin efektif dan efesien.

Menurut Fitrawan, segmen ritel diproyeksikan akan terus mengangkat dan berkontribusi besar terhadap kinerja Muamalat, apalagi Muamalat baru meluncurkan aplikasi mobile banking terbaru, Muamalat Digital Islamic Network (DIN).

BACA JUGA:

“Hal ini sebagai bagian dari komitmen untuk memberikan pelayanan terbaik kepada nasabah atas kepercayaan yang diberikan kepada Bank Muamalat,” tuturnya.

Muamalat yang merupakan Bank Syariah pertama di Indonesia, bakal semakin kokoh sejalan dengan pernyataan resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 14 November 2019.

“Saat ini terdapat beberapa investor strategis yang menyatakan berminat dan sedang berproses untuk memperkuat pemodalan Bank Muamalat,” ungkapnya.

Ditambahkan Sekretaris Perusahaan Bank Muamalat, Hayunaji mengemukakan, terkait rencana investor strategis itu, juga tengah berkoordinasi dan menjalin komunikasi yang intensif dengan OJK untuk menuntaskan proses tersebut.

Adapun untuk pemberitaan mengenai turunnya harga saham bank-bank BUMN akibat penyelamatan Bank Muamalat, kata dia, merupakan berita yang kurang akurat dan hendaknya tidak dikaitkan dengan Bank Muamalat.

“Secara umum, penurunan harga saham serta Index Harga Saham Gabungan seperti yang terjadi pada tanggal 14 November 2019, kemungkinan besar lebih dipengaruhi oleh kondisi pasar global seperti perang dagang USA – China serta beberapa isu lain,” katanya.

Selain itu, Hayunaji juga mengimbau berita mengenai Bank Muamalat tidak dikait-kaitkan dengan isu politik, karena upaya yang saat ini dilakukan manajemen Bank Muamalat adalah proses bisnis biasa, yang dilakukan dalam rangka proses perbaikan serta rencana pengembangan perusahaan kedepan.

“Kami berkomitmen secara terus menerus akan melakukan langkah-langkah untuk meningkatkan kinerja serta menerapkan tata kelola yang baik, sesuai dengan arahan dan pengawasan dari OJK,” ujarnya.