oleh

Setelah Dipukuli Satpol PP di Kampusnya Sendiri, Begini Pesan Aktivis Ini Kepada Mahasiswa Se-Indonesia

WAKATOBI – Sumpah Mahasiswa Indonesia. Kami Mahasiswa Indonesia bersumpah, bertanah air satu. Tanah air tanpa penindasan. Kami Mahasiswa Indonesia bersumpah, berbangsa satu. Bangsa yang Gandrung akan keadilan. Kami Mahasiswa Indonesia bersumpah, berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan. Hidup Mahasiswa. Hidup rakyat. Hidup demokrasi. Kata Alwi, salah satu mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Kata Alwi, sebelumnya, pada tanggal 30 November 2017, tepatnya di STAI Kabupaten Wakatobi, telah terjadi pelecehan demokrasi. Pelecehan kebebasan menyampaikan pendapat dimuka umum. Pelecehan nilai-nilai intelektualisme yang dilakukan oleh salah satu pengelola kampus STAI Wakatobi.

“Atas nama kebebasan berpendapat dimuka umum dan atas nama intelektualisme, saya mengundang keluarga besar Mahasiswa STAI Wakatobi dan seluruh mahasiswa serta rekan-rekan alumni dari Universitas se-Indonesia untuk sama-sama menegakkan Demokrasi, kebebasan menyampaikan pendapat dimuka umum, serta intelektualisme,” ungkap Alwi, Jumat (30/11).

Paparan di atas bermula pada saat tiga mahasiswa, Harjo (23), Alwi (22) dan Ramli (25) memprotes pemilihan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STAI Wakatobi.

Aksi mahasiswa yang tergabung dalam keluarga besar STAI Wakatobi ini, dipicu oleh Ketua Satu Pengelola STAI, Karim, saat dirinya ingin naik ke atas mobil untuk memukul seorang mahasiswa atas nama Alwi.

Bentrokan pun tak terhindarkan, sehingga mengakibatkan salah satu dari peserta aksi, Ramli dianiaya oleh salah satu Oknum Satpol PP Wakatobi bersama beberapa mahasiswa STAI lainya.

“Yang jadi pertanyaan, apakah boleh Satpol PP menjadi Tim pengamanan di lingkungan Kampus. Saya keberatan terkait pemukulan yang dilakukan kepada saya,” jelas Ramli saat dikonfirmasi, Jumat (01/12).

Sementara itu, Ketua Satu STAI Wakatobi, Karim menjelaskan proses penunjukan Ketua BEM STAI Wakatobi baru dilakukan secara aklamasi sebab, hanya ada satu calon yang terlibat dalam pemilihan tersebut.

“Saya terisinggung dengan beberapa bahasa peserta aksi yang mengungkit masalah pribadi saya,” jelasnya.

Reporter: Sahwan
Editor: Kardin

Terkini