oleh

Sidak TPID Sultra, Harga Bahan Pokok Relatif Stabil

KENDARI – Inspeksi mendadak (Sidak) yang dilakukan oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) berlangsung dibeberapa pasar tradisional Kota Kendari yakni pasar basah Mandonga dan pasar Andounohu. Hasil pemantauan TPID Sultra, harga bahan pokok masih relatif stabil.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Dinas (Kadis) perdagangan dan perindustrian Sultra, H Siti Saleha saat ditemui usai sidak di pasar Andounohu Kendari, Sabtu (18/08/2018).

Pemantauan harga yang dilakukan TPID tergabung dari berbagai instansi antara lain Bank Indonesia (BI) perwakilan Sultra, Disperindag Sultra, Bulog, Ketahanan Pangan Provinsi Sultra dan Polda Sultra.

Dia mengatakan, dalam peninjauan harga pangan, beberapa komoditi ada yang turun dan ada juga yang naik harganya kaya telur naik Rp 2 ribu tapi itu masih cukup stabil.

“Untuk harga daging naik Rp 5 ribu menjadi Rp 115 ribu perkilo. Perkiraan harga sampai lebaran iduladha harga-harga masih relatif stabil,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan oleh, Kepala Kantor BI Sultra, Minot Purwahono, untuk komoditi beras harganya masih stabil karena beras jadi bahan pokok utama dan bobot di inflasi juga besar.

“Makanya kita menjaga beras jangan sampai ada tekanan harga. Telur dan daging ayam masih mahal sama masalahnya dengan nasional. Ini dipengaruhi dengan pangan ayam dimana ada larangan menggunakan yang pangan yang mengandung zat kimia berbahaya untuk makanannya sehingga mengurangi suplai dipasar. Tetapi secara umum kami mencatat masih relatif stabil,” ucapnya.

Katanya, Kota Kendari dua bulan kemarin mencatat inflasi dan harapnya semoga bulan ini deflasi. Dan catatan BI sampai minggu ke dua, Sultra sudah deflasi 0,4 persen.

“Mudah -mudahan menjelang iduladha ini harga-masih terjaga dengan baik dan TPID selalu berkoordinasi memastikan bahwa ada kestabilan harga dan kepastian jumlah stoknya,” ucapnya.

Lanjutnya, untuk bahan pokok seperti cabe rawit masih mahal karena disebabkan cuaca dibulan kemarin yang melanda Kota Kendari. Sehingga produksinya menurun.

Sementara itu, kepala bidang komersil Bulog Sultra, Abdul Kadir mengatakan, Bulog sudah mulai turun operasi pasar dan menjual beras di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET). Untuk HET beras Rp 9.400, namun bulog menjual perkilo Rp 8.950. Dibandingkan dengan beras medium yang lain juga lebih bagus dan diharapkan beras ini akan tetap stabil.

“Beras bulog dipengecer dijual dengan harga Rp 8.950 itu lebih rendah dari HET Rp 9.450. Kalau langsung yang dari bulog yang berbentuk satger itu di setiap pasar dan lokasi pemukiman dijual dengan harga 8700 perkilo. Dan kemudian kami juga jual gula dengan harga Rp12 ribu, dibawah HET Rp12.500, kemudian kami juga jual terigu dan minyak goreng semua dijual di bawah HET,” tutupnya.(a)


Reporter : Waty

Terkini