Reporter:Erlin
Editor : Taya
SABULAKOA- Mikaila Sabrina, balita perempuan yang baru berusia empat bulan Warga Dusun IV Desa Asaria Kecamatan Sabulakoa Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra) yang kini menderita penyakit penggumpalan cairan otak kecil yang menyebabkan pembengkakan pada bagian belakang kepala, butuh uluran tangan dermawan.
Karena terkendala biaya setelah sebulan menunggu kamar kosong di Rumah Sakit Wahidin Makassar. Putri keempat pasangan Yusran (33) dan Dewi Purnama (31) yang menderita penyakit penggumpalan otak kecil sejak lahir belum mendapatkan penanganan medis yang maksimal dan terpaksa harus pulang dan dirawat di rumah.
Kepada mediakendari.com Yusran menjelaskan, ia memilih memulangkan buah hatinya karena tak adanya kepastian waktu akan kosongnya kamar pasien dari pihak RS Wahidin. Selain itu butuh biaya hidup selama di Makassar.
” Ada satu bulan kami di Makassar, sejak tanggal 21 Februai 2019,” ungkap Yusran pada selasa 18/6/2019.
Sejak sebulan itu lanjut Yusran, ia tinggal di kos-kosan karena, rujukan dari RS Bahteramas Sultra itu sebagai pasien rawat jalan, bukan rawat inap.
Karena belum adanya tindakan penanganan secara langsung, kata Yusran ia masuk ke dokter ahli saraf, tetapi diarahkan keruangan dokter ahli bius agar dicek bius apa yang cocok untuk buah hatinya.
Baca Juga :
- Sambut Mudik Lebaran, PELNI Berikan Diskon Tiket Kapal 30 Persen
- Toko Damai Kendari Hadirkan Promo Ramadhan untuk Kebutuhan Rumah Tangga
- Toko Damai Kendari Hadirkan Promo Anniversary Berhadiah Motor dan Elektronik
- Sambut Ramadhan, Informa Kendari Hadirkan Promo Beli 1 Gratis 1 Aksesoris Rumah
- Belanja Furnitur di INFORMA Kendari, Dapat 2X Poin Rewards dan Cashback hingga 10%
- Polda Sultra Gelar Rakor Lintas Sektoral Kesiapan Pengamanan Idul Fitri 1447 H
“Setelah kembali dari dokter ahli saraf, kami diberitahu dokter, penanganan akan dilakukan setelah sampai berat badan normal dan ruangan kamar ada yang kosong,” ungkapnya.
Yusran menjelaskan, saat itu kata dokter kondisi ruangan RS. Wahidin semua terisi, tak ada satupun yang kosong.
“Kami mengambil keputusan untuk pulang saja, dari pada harus bertahan dengan biaya pas-pasan. Dan Pihak RS juga menyarankan nanti kalau sudah ada kamar kosong baru di telepon. Tetapi sampai saat ini belum ada kabar dari pihak RS,” tandasnya.(a)











