oleh

Begini Jawaban Pertamina Soal Kelangkaan Gas Elpiji Tiga Kilogram di Sultra

KENDARI – Soal kelangkaan Gas Elpiji Tiga Kilogram bersubsidi di sejumlah wilayah termasuk Sulawesi Tenggara (Sultra) mendapat jawaban dari Pertamina.

Unit Manager Comm dan CSR PT Pertamina MOR VII, Roby Hervindo mengatakan, terkait dengan kelangkaan gas elpiji tiga kilogram di beberapa daerah di Sulawesi Tenggara (Sultra), disebabkan karena telah terjadi kendala teknis pada kapal pengiriman elpiji ke Kendari.

Roby menerangkan, isu kelangkaan gas elpiji di Sultra, muncul pada dua Minggu lalu. Sehingga katanya, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, pihaknya melakukan alih suplai dari Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Kota Kolaka.

“Itu untuk pemenuhan masyarakat Sultra pada umumnya, khususnya di Kota Kendari dan sekitarnya,” ungkap Roby saat dihubungi melalui teleponnya, Jumat (27/04/2018).

Dijelaskannya, per hari Minggu pekan lalu, kapal telah kembali normal, sehingga penyaluran di Kendari berangsur normal.

BACA JUGA: Pertamina Bakal Salurkan Rp 1,2 Miliar Dana CSR di Sultra

“Kami mengisi stok di pangkalan sampai dengan 100 tabung. Namun isu terlanjur berkembang dan pengecer memanfaatkan dengan menjual harga tinggi,” ucapnya.

“Oleh karenanya, kami imbau agar masyarakat yang tidak mampu dapat membeli elpiji tiga kilogram bersubsidi di pangkalan-pangakalan resmi Pertamina, dalam waktu dekat, akan dilakukan operasi pasar di Kendari,” paparnya.

Ia menuturkan, untuk melakukan operasi pasar di lapangan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Disperindag Sultra agar harga tidak terlalu melambung tinggi di tingkat pengecer.

Namun, lanjutnya, karena pengecer bukan distributor resmi Pertamina, pihaknya tidak berhak menertibkan

“Pasokan sudah mulai normal sejak pekan ini. Dan isu kelangkaan itu, hanya di tingkat pengecer,” cetusnya.

Roby menambahkan, sesuai dengan aturan pemerintah bahwa Pertamina menjual gas elpiji tiga kilogram sesuai dengan harga Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan Pemda, yaitu Rp 17.900 per tabung.


Reporter: Waty
Editor: Kardin

Terkini