oleh

Dikbud Baubau Ingin Tradisi Posuo Tetap Dilestarikan

Penulis : Ardilan

BAUBAU – Pemerintah Kota (Pemkot) Baubau Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) ingin tradisi posuo tetap dilestarikan mengingat ritual itu termasuk salah satu warisan budaya Kesultanan Buton yang saat ini lebih akrab disebut Kepulauan Buton.

Ritual posuo atau pingitan merupakan adat budaya untuk para wanita dari suku bangsa Wolio yang menandakan beralihnya status individu seorang gadis remaja menuju dewasa. Namun, di zaman sekarang tradisi ini sudah jarang dilakukan oleh masyarakat Wolio sendiri.

Baca Juga: 2.424 Peserta Bakal Mengikuti Tes SKD CPNS dan P3K Non Guru di Konawe Selatan

Dikbud Baubau pun selaku Dinas terkait di daerah eks pusat Kesultanan Buton menggelar pelatihan ritual adat posuo yang melibatkan kelompok Ibu-Ibu dan guru sejarah, Selasa 05 Oktober 2021.

Kepala Dikbud Kota Baubau, La Ode Aswad mengungkapkan banyak faktor menjadi penyebab ritual posuo sudah jarang dilaksanakan diantaranya orang-orang yang memahami tata cara posuo semakin sedikit.

Selain itu, menurut Aswad, orang tua perempuan yang memiliki keahlian ritual posuo yang disebut “Bhisa” juga semakin berkurang. Alasan itu juga menjadi penyebab jarangnya ritual posuo dilaksanakan oleh masyarakat Wolio. Belum lagi, ritual posuo butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit.

“Bukannya orang tua tidak mau menggelar Posuo untuk anaknya, namun merasa kesulitan menemukan orang-orang yang ahli dalam ritual ini. Posuo ini membutuhkan keterlibatan keluarga besar, dengan anggaran yang besar pula dan waktu yang panjang. Sehingga kebanyakan keluarga cenderung mengikuti Posuo yang instan,” ungkap Kepala Dikbud Kota Baubau, La Ode Aswad dalam sambutannya.

Baca Juga: KPK Buka Kompetisi Unit Pengendali Gratifikasi Terbaik

Mantan Kepala Bappeda Kota Baubau itu pun memiliki ide kedepan bakal membentuk Paguyuban Perempuan Pelatih Posuo Wolio (P4W) yang bisa mendampingi posuo diberbagai tempat pasca pelatihan tersebut agar bisa membentuk ahli-ahli posuo yang baru untuk kemudian siap memberikan pendampingan dan juga keilmuannya kepada keluarga yang akan menggelar ritual posuo.

Sementara itu, Tokoh budaya Buton, La Ode Muhamad Arsal menjelaskan pelaksanaan posuo adalah mata rantai siklus hidup yang merupakan kewajiban dan tanggung jawab orang tua terhadap anaknya.

Selama prosesi ritual, urai Arsal, anak-anak gadis yang sudah memasuki usia dewasa mendapat gemblengan fisik berupa cara mengatur pola makan, pola prilaku, gerak fisik dan perawatan kecantikan. Dari sisi mental, diberikan nasehat terkait kesucian, menjaga aurat, cara mandi junub, hingga pada pendidikan akhlak dan hakekat manusia.

Ia menyebut, dalam tradisi masyarakat Wolio mengenal tiga jenis Posuo yakni Posuo Wolio, Posuo Johoro dan Posuo Arabu. Dimasa lampau masyarakat Wolio-Buton golongan Lalaki dan Walaka melaksanakan posuo selama 8 hari 8 malam, sementara golongan papara hanya selama empat hari.

Baca Juga: Jasa Raharja Sultra Gelar Pendidikan dan Pelatihan Kewirausahaan kepada Ahli Waris Korban

“Dimalam pertama disebut malona tangia, hari yang pertama disebut Pauncura. Hari yang keempat disebut hari Bhaliana Impo. Sedangkan hari yang kedelapan disebut hari Matana Karia,” tandas Sekdin Dikbud Kota Baubau itu.

Kepala Bidang Budaya, Dikbud Baubau, Ninik Gustianingsih Ahmad menambahkan kegiatan ini dikuiti oleh pengurus Dharma Wanita Persatuan, Organisasi Kewanitaan dan Guru Pendidikan Sejarah ke Kota Baubau.

Terkini