Reporter : Erlin
Editor : Kang Upik
ANDOOLO – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) bakal menyurati PT Merbau atas dugaan penyerobotan lahan di Kecamatan Laeya.
“Kami akan menyurati pimpinan PT Merbau agar lokasi yang belum digusur jangan digusur dulu. Lokasi yang telah digusur hentikan aktivitasnya sebelum ada finalisasi atau klarifikasi pemilik sah,” kata Ketua DPRD Konsel, Irham Kalenggo.
Rencana ini disampaikan Irham saat bertahap muka dengan dua warga dari dua desa yakni Desa Laeya dan Desa Lerepako di Balai Desa Laeya Kecamatan Laeya, Rabu, (31/7/2019).
Dalam pertemuan ini warga dua desa tersebut mengklaim memiliki hak atas tanah yang diduga telah diserobot PT Merbau, sebagai perusahaan yang bergerak pada sektor perkebunan kelapa sawit.
BACA JUGA :
- Bengkel Seni FISIP UHO Bangkit! Resmi Lantik 73 Anggota Baru di 5 Divisi, Siap Guncang Panggung Seni Kampus
- Jelang HUT ke-75 Humas Polri, Kabag SDM Polres Konsel AKP Sriyanto Pimpin Bakti Sosial di Gereja Siloam : Indahnya Toleransi Polri Bersama Masyarakat
- Bukan Razia, Bukan Penindakan, Fenomena Polri di Jalan di Sultra: Kapolda Atur Lalin, Wakapolda Apel di SMA, Kapolres Konawe Sebrangkan Siswa
- Gerebek Tengah Malam Buta! Polres Konawe & BNNK Sikat Sarang Narkoba di Uepai, 57 Paket Sabu 31 Gram Diamankan, Bandar Kabur.
- Gatur Lalin Kapolres Konawe, Pastikan Keselamatan Anak Sekolah dan Masyarakat
- Gubernur LIRA Sultra Salut Kapolda Himawan Mau Turun ke Jalan! Harap Kapolres Ikuti Jejaknya
Irham menjelaskan, pihaknya turun mengklarifikasi kepemilikan lahan PT Merbau yang juga diklaim masyarakat. Menurutnya, ada dua fakta yang ingin diklarifikasi yakni lahan yang telah digusur PT Merbau dan baru akan digusur, atas lahan yang menurut warga belum dijual ke perusahaan.
“Untuk Desa Lerepako dari 25 pemilik lahan hanya tiga warga yang mengaku pernah menjual. Dan dari tiga pemilik diakui ada tanah yang mereka sudah jual dan ada tanah yang belum mereka jual tetapi sudah di gusur oleh PT Merbau,” ungkapnya.
Sedangkan, di Desa Laeya dari sekitar dari 47 hektar yang telah digusur sekitar 1,9 hektar. Warga meminta dewan untuk mengklarifikasi masalah ini.
“Tanah itu sudah dibeli PT Merbau kepada siapa. Karena pemilik lahan merasa mereka belum menjual sehingga mereka meminta untuk tidak digusur,” papar politisi Golkar ini.
Irham berjanji dua pekan persoalan antara warga dan perusahaan semoga tuntas. Ia sendiri menduga lahan yang disengketakan sekitar 70-80 hektar.
“Kalau tanah itu tanah masyarakat, maka perusahaan jangan menggarap. Begitu pula sebaliknya, jika tanah itu telah dijual maka masyarakat serahkan kepada perusahaan. Intinya DPRD berada ditengah-tengah untuk menyelesaikan persoalan ini,” tandasnya. (b)











