oleh

Hadiri Ritual Adat Tolak Bala di Desa Kabawakole, Gubernur Sultra Ingatkan Warga Buton Akan Ancaman Tsunami

-NEWS-70 dibaca

KENDARI – Gubernur Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) H. Ali Mazi, SH., menyempatkan diri dan melihat langsung Ritual Adat Tolak Bala di Desa Kabawakole, Senin 28 Maret 2022.

Ikut bersama Gubernur Ali Mazi, Deputi Bidang Pencegahan, sekaligus Sekretaris Utama (Sestama) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Lilik Kurniawan, ST., M.Si., Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Prov. Sulawesi Tenggara Muhammad Yusup, SE., M.Si., dan Bupati Buton Drs. La Bakry, M.Si., serta banyak pejabat dan tamu lainnya.

Sebelum rombongan menuju Desa Kabawakole, Gubernur Ali Mazi menyempatkan solat Asar di Mesjid Agung Keraton Buton, sekaligus setelah itu meninjau keadaan di sekitar Mesjid Keraton, dan selanjutnya menuju Desa Kabawakole.

Setibanya di Desa Kabawakole, rombongan disambut dengan tarian penyambutan, pengalungan bunga dan kemudian diiringi Tarian Manggaru menuju tempat acara. Tampak perahu kecil dengan bendera tiga warna diletakkan di atas bekas pondasi yang ambruk karena stunami.

Baca Juga : Titin Nurbaya Kery Konggoasa Ajak Pengurus PKK Olah Kelapa Jadi Minyak Goreng

Acara ini untuk selalu mengingatkan warga di seluruh tanah Buton mengenai ancaman tsunami. Juga untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT atau Tuhan Yang Maha Esa, agar selalu menjaga para korban tsunami.

Di lokasi acara tersebut, dari penuturan warga sekitar, dulunya adalah pasar yang berdekatan gengan Puskesmas. Pasar dan Puskesmas yang ketika itu merupakan tempat aktifitas warga setiap harinya, kini berganti dengan pemandangan pondasi ambruk. Dari penuturan warga setenpat, ketika itu ombak besar menghantam sepanjang pantai Desa Kabawakole, sehingga menyebabkan 300 meter pondasi harus tergerus.

Sebelum memasuki Magrib, acara pun dimulai. Tiga pemuka adat menaiki perahu kecil menuju laut untuk melaksanakan ritual adat tolak bala. Sementara Gubernur Ali Mazi beserta rombongan dan warga turut menyaksikan.

Kepala BNPB Prov. Sultra Muhammad Yusup mengatakan bahwa ini adalah tradisi masyarakat setempat yang merupakan kearifan lokal sebagai bentuk penanggulangan bencana. Idealnya, tradisi ini dilakukan tiga tahun sekali. “Kali ini, kita tidak bisa lakukan karena setahun yang lalu baru dilakukan. Jadi dua tahun lagi baru dilaksanakan,” kata Muhammad Yusup.

Baca Juga : KPU Muna Barat Koordinasi PDPB

Gempa bumi 7,4 Magnitudo yang terjadi di Nusa Tenggara Timur terasa hingga di wilayah Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, pada Selasa 14 Desember 2021. Warga Kampung Hone, Desa Banabungi, Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton, menjadi panik dan berhamburan lari ke luar rumah ke tempat yang lebih tinggi.

Warga yang sementara bekerja dan tiba-tiba gempa terjadi. Gempa tersebut membuat panik setelah melihat air laut. Warga Buton lainnya yang tinggal di pesisir pantai berlarian ke tempat yang lebih tinggi setelah melihat air laut pasang dan turun dengan tiba-tiba.

Gempa ini tidak menimbulkan kerusakan di Kabupaten Buton. Ditambahkan, warga masih merasakan trauma akibat tsunami yang pernah terjadi di wilayah itu. Saat ini situasi sudah mulai kondusif ada sebagian warga sudah kembali, meski masih ada yang panik.

Baca Juga : AMPM Desak Polda Sultra dan DLHK Usut Dugaan Ilegal Mining PT Rajawali Soraya Mas dan CS8

Sebelumnya diberitakan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi mengakhiri peringatan dini tsunami pasca-gempa 7,4 Magnitudo yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa 14 Desember 2021. Dua jam setelah gempa pertama kali terjadi pada pukul 11.20 WITA, tidak terdeteksi kenaikan permukaan air laut.

Berbeda kejadiannya, gempa Flores terjadi pada Sabtu 12 Desember 2012, tepatnya pukul 13.29 WITA. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang saat itu masih bernama Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) mencatat, gempa terjadi berkekuatan 6,8 Skala Richter (SR).

Saat itu, Lembaga Geofisika Institut de Physique du Globe di Strasbourg Perancis menyatakan, gempa yang terjadi berskala 7,5 SR. Gelombang itu menghantam daratan pesisir utara maupun selatan Flores terutama di Maumere Kabupaten Sikka. Nasib paling tragis menimpa dua pulau kecil di lepas pantai Maumere, yakni Pulau Babi dan Pulau Panama Besar.

Baca Juga : Pria ODGJ di Konawe Selatan Gorok Ibunya sendiri Hingga Tewas 

Pada saat gempa, sejumlah warga lari ke gunung, kurang lebih 300 meter dari pantai. Ketika itu, gelombang laut menghajar Pulau Babi. Saksi mata menyebut, saat gempa terjadi, air laut surut hingga 100 meter. Sepuluh menit kemudian, tsunami datang.

”Begitu air laut naik, saya mencoba lari. Tetapi, tahu-tahu, saya sudah dihanyutkan air hingga tersangkut di puncak pohon kelapa,” ujar Nurdin Buton.

Nurdin Buton dan warga lainnya, juga mengalami nasib serupa. Mereka tersapu tsunami saat hendak mengambil kakaknya, Base dan istrinya, Bongko yang sedang hamil tiga bulan. Nurdin sempat membawa mamanya yang lumpuh menuju masjid. Namun, saat hendak mengambil kakak dan istrinya, tsunami sudah menerjang.

Bahkan masjid yang dijadikan tempat pengungsian itu roboh disapu gelombang. Tsunami menghanyutkannya dan baru sadar ketika air laut sudah surut. Ketika itu, dirinya tersangkut di bukit. Mayat bergelimpangan saat itu, sebagian terperosok ke dalam rekahan tanah. Di rekahan itulah mayat kemudian dikubur massal.

 

Penulis : Sardin.D

Terkini