Mahasiswa UHO Kembangkan KOHALOCK, Transformasikan Budaya Kohanu untuk Cegah Korupsi Dana Desa
KENDARI, Mediakendari.com — Mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) mengembangkan sebuah inovasi berbasis teknologi blockchain bernama KOHALOCK sebagai upaya mendorong transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana desa.
Inovasi tersebut dikembangkan melalui riset Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dengan judul.
“KOHALOCK: Dekonstruksi Budaya Kohanu melalui Smart Contract Blockchain sebagai Mekanisme Pencegahan Korupsi Dana Desa dalam Fenomena No Viral No Justice.”
Riset ini mengangkat nilai budaya lokal Kohanu atau budaya malu yang dikenal dalam masyarakat Tolaki di Sulawesi Tenggara. Nilai tersebut selama ini menjadi salah satu bentuk kontrol sosial dalam menjaga perilaku, kehormatan, dan integritas anggota masyarakat.
Namun, perkembangan teknologi informasi dan fenomena “No Viral, No Justice” dinilai menghadirkan tantangan baru. Informasi mengenai dugaan penyimpangan dapat menyebar dengan cepat di ruang publik, bahkan sebelum melalui proses verifikasi dan pembuktian hukum yang memadai.
Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan stigma terhadap aparatur desa yang belum tentu terbukti melakukan pelanggaran.
Melalui KOHALOCK, para mahasiswa mencoba mengintegrasikan nilai budaya Kohanu dengan teknologi blockchain, smart contract, dan akuntansi forensik untuk membangun mekanisme pengawasan dana desa yang lebih transparan dan dapat ditelusuri.
Sistem tersebut dirancang agar setiap transaksi dan informasi yang tercatat memiliki jejak digital yang dapat ditelusuri serta sulit diubah setelah tercatat dalam sistem (immutable).
Dengan pendekatan tersebut, KOHALOCK tidak hanya diarahkan sebagai instrumen pencegahan penyimpangan dana desa, tetapi juga sebagai mekanisme yang dapat membantu menyediakan bukti digital secara lebih objektif ketika muncul dugaan penyalahgunaan anggaran.
Konsep ini sekaligus berupaya menggeser fungsi nilai Kohanu dari sekadar kontrol sosial berbasis rasa malu menjadi sebuah mekanisme perlindungan integritas yang diperkuat dengan teknologi.
Para peneliti berharap inovasi tersebut dapat memberikan alternatif dalam memperkuat tata kelola dana desa, sekaligus menjaga keseimbangan antara transparansi publik dan perlindungan terhadap aparatur desa dari stigma atau tuduhan yang belum terbukti secara hukum.
Hasil riset KOHALOCK juga diharapkan dapat menjadi kontribusi mahasiswa UHO dalam menghadirkan inovasi yang menggabungkan kearifan lokal Sulawesi Tenggara dengan perkembangan teknologi digital, khususnya dalam upaya membangun tata kelola pemerintahan desa yang transparan, akuntabel, dan berintegritas.
Melalui publikasi dan diseminasi hasil penelitian, para mahasiswa berharap gagasan KOHALOCK dapat diketahui masyarakat luas dan membuka ruang kolaborasi untuk pengembangan lebih lanjut, khususnya dalam mendukung pencegahan korupsi serta penguatan tata kelola dana desa di Sulawesi Tenggara.
Liputan : Jafrun.











