Reporter: Hendrik B
Editor: Taya
KENDARI – Meski narapidana berada di dalam ruang terbatas, tidak membuat mereka hilang akal untuk kembali beraksi melakukan tindak kejahatan. Salah seorang berinisial BR dibekuk Badan Narkotika Nasional Provinsi Sulawesi Tenggara karena diduga sebagai pengedar sabu jaringan lapas Kendari.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Lembaga Pemasyarakatan Klas II A Kendari, Abdul Samad mengatakan para narapidana terus berusaha berbagai cara untuk memasukan alat komunukasi dalam Lapas sehingga bisa mengendalikan narkoba tersebut.
Samad, menyebutkan petugas melakukan penjagaan mulai pukul 19.00 Wita hingga pukul 07.00 Wita. Meski dijaga ketat, Samad mengakui masih ada kelemahan petugas sehingga alat komunikasi masih bisa didapatkan para narapidana di dalam Lapas.
Baca Juga :
- Dialog Publik IMM Sultra Jadi Panggung Kritik Terhadap Wacana Pilkada Tidak Langsung
- Menuju Pengelolaan Hutan Berkelanjutan, Sultra Dorong Evaluasi dan Reformasi KPH
- Perkuat Ketahanan Pangan, Gubernur Sultra dan Bupati Konawe Panen Perdana Benih Padi di Wawotobi
- Siap Bersaing dengan Bank Nasional, Bank Sultra Mantapkan Fondasi Internal
- Dorong Ekonomi Daerah, Gubernur Sultra Minta Anggaran Jadi Stimulus Kesejahteraan
- Gubernur Andi Sumangerukka Rombak Birokrasi Sultra, 50 Pejabat Dilantik
“Kemungkinan petugas yang berjaga otomatis memiliki titik lengah baik itu lima menit, sehingga kesempatan tersebut para napi dapat memanfaatkan untuk kepentingan pribadinya,”kata Samad saat menghadiri penyitaan aset tanah dan bangunan yang diduga hasil penjualan narkoba di Kelurahan Mokoau, Kecamatan Kambu, Kota Kendari, Rabu (20/11/2019)
“Namanya manusia biasa, kami juga memiliki titik kelemahan,” tambahnya.
Ia menyebut keberadaan alat komunikasi dalam Lapas bisa mempermudah narapidana bisa terlacak hingga akhirnya bisa dilakukan penangkapan.
“Karena ada titik signal di sana, maka dari penyidik narkoba berkoordinasi dengan saya sehingga kita bisa mengungkapnya,” ujarnya.











