BREAKING NEWSBUDAYAHEADLINE NEWSINFOGRAFISKENDARIKOLAKAKOLAKA TIMURKOLAKA UTARAKONAWEKONAWE UTARANASIONALNEWSPENDIDIKANPERISTIWAPROV SULTRASOSOKSULTRA

Polemik 5 Bokeo Mekongga Mencuat, LAT: Rusak Tatanan Budaya Suku Tolaki

×

Polemik 5 Bokeo Mekongga Mencuat, LAT: Rusak Tatanan Budaya Suku Tolaki

Sebarkan artikel ini

Polemik 5 Bokeo Mekongga Mencuat, LAT: Rusak Tatanan Budaya Suku Tolaki

KENDARI, Mediake.ldari.com – Munculnya lima Raja Mekongga atau Bokeo pasca wafatnya Khaerun Dahlan dinilai berpotensi merusak tatanan budaya dan sejarah Suku Tolaki Mekongga.

Wakil Ketua Umum I DPP Lembaga Adat Tolaki (LAT) Bidang Organisasi, Pemuda dan Tamalaki, Dr. Adrian Tawai, S.Sos.,M.Si., angkat bicara terkait polemik tersebut.

Bokeo Mekongga ke-XIX, Khaerun Dahlan meninggal dunia pada Kamis , 11 September 2025 lalu.

Sepeninggalnya, muncul lima Bokeo yang masing-masing dilantik melalui proses adat dan mengklaim diri terlegitimasi secara de facto maupun de jure, lengkap dengan wilayah kekuasaan dan pengikutnya.

Dr. Adrian menegaskan, Bokeo bukan sekadar simbol kekuasaan, melainkan wujud ketaatan pada nilai-nilai leluhur sebagai warisan budaya yang harus dipertahankan dengan menjunjung tinggi Kalosara sebagai falsafah hidup Suku Tolaki.

“Kondisi saat ini dengan lahirnya 5 Bokeo di Mekongga dapat merusak tatanan budaya dan sejarah yang sudah lama dibangun pada masyarakat Mekongga,” ujar Adrian, Minggu (20/9/2026).

Ia mengingatkan, hilangnya prinsip _Samaturu, Medulu, Mepokoaso, Meronga-ronga_ serta musyawarah mufakat dapat menjadi ruang perpecahan antar generasi. Kondisi ini dikhawatirkan merusak sistem pewarisan nilai adat kepada anak cucu.

“Bila ini tidak diluruskan, maka saat ini dan kemudian hari Bokeo akan tetap menjadi 5 bahkan bisa bertambah. Kalau menggunakan sistem pewarisan, Bokeo yang berhalangan tetap atau meninggal akan digantikan generasinya, artinya yang saat ini terdapat 5 Bokeo akan mewariskan 5 calon pengganti di masing-masing Bokeo di kemudian hari,” jelasnya.

Menurutnya, kondisi tersebut akan membuat masyarakat Mekongga semakin terpecah dan terkotak-kotak. Padahal tatanan adat yang diyakini selama ini, Bokeo itu hanya satu dan titah raja hanya berasal dari satu orang, bukan lima atau lebih.

Adrian menilai polemik ini seolah dibiarkan dengan dalih “seleksi alam”. Padahal hal tersebut tidak boleh dilegitimasi karena berpotensi merusak marwah sejarah dan budaya Mekongga.

Ia pun mendesak seluruh unsur masyarakat di Wuta Mekongga, mulai dari Dewan Adat Mekongga, ormas kepemudaan, lembaga budaya, Tamalaki, akademisi, sejarawan, pemerhati budaya, hingga pemerintah daerah untuk kembali fokus mengembalikan marwah Bokeo Mekongga.

“Sebaiknya kembali fokus mengembalikan marwah Bokeo Mekongga sesuai tatanan yang sudah terbangun selama ini dengan menegakkan falsafah Kalosara ‘Inae konasara iee pinesara, inae liasara iee pinekasara’. Begitu pun pemerintah daerah sebaiknya serius dan fokus menyelesaikan persoalan ini,” tegasnya.

Laporan : Redaksi.