MEKSIKO – Lopez Obrador mulai menjabat presiden 1 Desember lalu dan pada akhir bulan pertama berkuasa, peringkat popularitasnya melampaui 80 persen. Ia memanfaatkan sepenuhnya mandat sebagai presiden untuk bergerak cepat dalam banyak bidang sehingga banyak yang menilainya terlalu banyak.
Bahkan sebelum menjabat, Lopez Obrador mengadakan referendum mengenai pembangunan sebagian Bandara Mexico City bernilai 13 miliar dolar. Ia menggunakan hasil referendum itu sebagai lampu hijau untuk membatalkan proyek yang ditentangnya.
Baca Juga :
- Tak Miliki PKKPRL dan AMDAL, Izin Tersus PT TMN Dicabut Kemenhub Tapi Masih Ngeyel Beroperasi – GERAK Sultra Desak Kejati Turun
- Proyek Hilirisasi Miliaran Dolar Terancam Seret, Komisi XII DPR RI : Kepastian RKAB Harga Mati
- Peringati HUT ke-30, Polda Sultra Gelar Doa Bersama Hadirkan Ustadz Das’ad Latif
- BAHAYA! Truk Bahan Curah Bebas Masuk Kapal Ferry Kendari-Konkep, JPKP Nasional Ancam Lapor Kemenhub
- PT Tiran Group Prioritaskan Tenaga Kerja Lokal, Ribuan Warga Sultra Terserap
- KKJ Sultra Mengecam Keras Kadispar Sultra Menyebut Wartawan Idiot
Bagi Lopez Obrador, prinsip kebijakan luar negeri Meksiko adalah tidak campur tangan, dan ia menyerahkan urusan itu pada menteri luar negerinya, Marcelo Ebrard.
Tetapi beberapa kritikus mengatakan Meksiko melakukan hal yang diinginkan Presiden Trump dengan menerima program “Tetap di Meksiko” dan membatasi pergerakan karavan para migran Amerika Tengah itu. Program “Tetap di Meksiko” memaksa pemohon suaka dari Amerika Tengah menunggu penyelesaian kasus mereka dengan tetap berada di perbatasan sisi Meksiko. [ka]











