Reporter : Fito
Editor : Kang Upi
KENDARI – Aksi protes yang dilakukan warga sekitar jalan H. Lamuse, Kelurahan Lepo Lepo, Kecamatan Baruga, Kota Kendari yang memblokir akses jalan, karena banyaknya debu akibat tumpukan material proyek ditanggapi Komisi III DPRD Kota Kendari.
Ketua Komisi III DPRD Kota Kendari, Rajab Jinik, yang menangani Bidang Pembangunan dan Kesra ini mendesak Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Sultra untuk segera turun tangan.
Rajab juga menjelaskan, setelah menerima masukan dari masyarakat yang terdampak debu proyek jalan di Kelurahan Lepo-lepo tersebut, dirinya langsung turun ke lokasi untuk melihat langsung kondisi masyarakat.
Namun, karena proyek tersebut bukan program kerja Pemerintah Kota Kendari sesuai status jalan tersebut sebagai jalan provinsi, maka kewenangan berada di Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Sultra.
Baca Juga :
- Presiden Prabowo Anugerahkan Bintang Jasa dan Satyalancana Wira Karya kepada Penggerak MBG dan Rantai Pasok SPPG Polri
- Presiden Prabowo Resmikan 1.179 SPPG dan 18 Gudang Ketahanan Pangan Polri, SPPG Polresta Kendari Ikut Diluncurkan
- Tiga Terduga Pengedar Sabu Ditangkap di Kendari Barat, Polisi Amankan 21,86 Gram Barang Bukti
- Komisi I dan III DPRD Kendari Gelar RDP Bahas Akses Jalan Griya Asri Cendana
- DWP Sekretariat DPRD Kendari Siapkan Kepengurusan Baru, Perkuat Peran Organisasi
- Bupati Konawe Luncurkan Program Makan Bergizi Gratis: Langkah Nyata Meningkatkan Kualitas Hidup Masyarakat
“Kemarin ada masukan dari masyarakat, kami cek langsung ke lapangan. Kami meminta Dinas PU untuk melakukan penyiraman jalan, karena sangat jelas dampaknya ke masyarakat, bisa menimbulkan penyakit,” tegasnya, di DPRD Kota Kendari, Kamis (17/10/2019).
Sementara itu, ditemui mediakendari.com, salah seorang warga di jalan H. Lamuse, Dio, menjelaskan, warga sekitar sudah resah dengan debu yang mengganggu baik warga setempat maupun, pengendara yang melintas.
Tidak hanya dari sisi kesehatan, akibat debu pekat yang ditimbulkan proyek jalan tersebut warung-warung milik warga harus ditutup, sehingga warga mengalami kerugian secara ekonomi.
Ia juga menuturkan jika pengerjaan jalan raya sepanjang 5 kilometer tersebut dimulai sejak Agustus 2019 lalu, namun sampai sekarang belum ada kelanjutan rencana perbaikan.
“Kami yang punya kios-kios setenga mati, karena tidak ada yang mau datang membeli, jadi kami terpaksa tutup,” ungkap Dio, kiosnya yang kini sudah tutup.











