oleh

Komoditi Bahan Makanan Picu Inflasi di Sultra

KENDARI – Bahan makanan masih menjadi pemicu inflasi di Sulawesi Tenggara (Sultra). Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Tenggara (Sultra) mencatat, kelompok Volatile Food (VF) menerangkan inflasi sebesar 4,99 persen (yoy) pada periode Desember 2017 dan secara bulanan menjadi penyumbang inflasi tertinggi Sultra (0,41 persen mtm).

Selain itu, KPwBI Sultra juga mencatat pada Desember 2017 inflasi Sultra inflasi sebesar 0,70 persen (mtm), berbalik arah dibandingkan pada bulan sebelumnya yakni tercatat deflasi sebesar 0,14 persen (mtm).

Walaupun secara tahunan, pencapaian inflasi Sultra masih berada di bawah target nasional dengan mencatatkan inflasi sebesar 2,97 persen (yoy). Pencapaian tersebut juga lebih baik dari pada inflasi nasional yang tercatat sebesar 3,61 persen (yoy) pada Desember 2017.

Kepala Bidang Deputi Manajemen Internal dan Sistem Pembayaran KPwBI Sultra, LM Bahtiar Zaadi mengatakan, kelompok ikan menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi terbesar baik di Kota Kendari maupun Kota Baubau.

Untuk di Kota Kendari, ikan Cakalang, Kembung serta Ikan Layang atau Benggol mencatatkan inflasi masing-masing sebesar 14,29 persen (mtm), 8,02 persen (mtm) dan 8,24 persen (mtm) dan berkontribusi masing-masing 0,19 persen, 0,10 persen terhadap inflasi bulanan Kota Kendari.

Sementara di Kota Baubau, komoditas Ikan Cakalang dan Layang atau Benggol justru mencatatkan deflasi masing-masing sebesar 16,69 persen (mtm) dan 3,10 persen (mtm) juga komoditas ikan Kembung menyumbang 0,17 persen inflasi bulanan Kota Baubau.

“Tingginya kontribusi inflasi kelompok tersebut antara lain diakibatkan oleh gangguan cuaca pada periode laporan yang seharusnya sudah mulai memasuki musim tangkap. Pembatasan penangkapan ikan di beberapa wilayah Laut Banda juga memberi dampak berkurangnya pasokan ikan,” kata Bahtiar, pada Kamis (4/1).

Lebih lanjut, ia mengatakan, selain komoditas ikan, komoditas telur ayam ras perlu diperhatikan karena mencatatkan inflasi yang cukup tinggi yaitu sebesar 6,05 persen (mtm) di Kota Kendari dan 13,84 persen (mtm) di Kota Baubau. Komoditas Beras di Kota Kendari juga mencatatkan inflasi sebesar 1,41 persen (mtm). Kenaikan harga pada kedua bahan makanan tersebut terkait dengan meningkatnya permintaan pada masa libur Natal dan akhir tahun.

“Peningkatan harga dari kelompok volatile food diredam oleh deflasi yang terjadi pada komoditas lainnya seperti cabai rawit, kacang panjang dan cabai merah,” tutupnya.

Reporter: Waty
Editor: Kardin

Terkini