oleh

KPwBI Sultra Prediksi Inflasi di Februari Sebesar 0,3 Persen

KENDARI – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Tenggara (Sultra) memprediksi inflasi di Februari 2018 ini sebesar 0,3 persen.

Hal ini disampaikan oleh Kepala KPwBI Sultra, Minot Purwahono. Menurutnya, sampai Minggu kedua dan ketiga Survei Pantauan Harga (SPH) yang dilakukan Bank Indonesia di Kota Kendari diperkirakan lebih rendah dari bulan Januari. Hal ini dikarenakan tekanannya tidak sebanyak di bulan lalu.

“Semoga untuk inflasi di bulan Februari bisa berada di angka 0,3 persen, walaupun masih ada tekanan di beberapa komoditas, seperti ikan masih relatif tinggi,” ungkap Minot saat ditemui di Kendari, Jumat (23/02/2018).

Lanjut Minot, pihaknya sudah berkoordinasi dengan dinas perikanan dan kalautan bahwa tekanan di beberapa komoditas seperti ikan masih relatif tinggi. Hal ini masih dipengaruhi oleh suplai yang terbatas, serta cuaca yang tidak kondusif.

Selain itu, kata Minot, harga beras di bulan Februari juga sudah mulai turun, berbeda dengan bulan Januari. Dirinya berharap untuk di Minggu ketiga dan keempat bisa turun lagi, karena Bulog sudah melakukan operasi pasar serta penyaluran Rastra sudah dilakukan sehingga bisa menekan harga beras.

BACA JUGA: KPwBI : Komoditas Bahan Makanan Kembali Picu Inflasi Sulawesi Tenggara

“Kami berharap Inflasi di bulan Februari lebih rendah 0,3 persen dibandingkan dengan bulan Januari yang inflasinya 0,6 persen,” ucapnya.

Dia menuturkan, tekanan di komoditas ikan dipengaruhi oleh cuaca sehingga banyak nelayan yang terhambat aktivitasnya. Tetapi itu hanya beberapa ikan tertentu. Kemudian, lanjut Minot, sayuran terkendala juga karena cuaca dan ini akan mengurangi suplai di pasar.

“Olehnya itu, peran dari TPID banyak sekali langkah untuk menurunkan harga dengan cara sidak untuk memastikan stok tersedia cukup, termasuk harga di pasaran,” paparnya.

Katanya, BI bersama-sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sultra dan Bulog melakukan operasi pasar beras. Minot berharap, langkah tersebut mudah-mudahan bisa menstabilkan harga.

“Kenapa saya memprediksikan bahwa akan terjadi inflasi di Februari ini, karena kondisi iklim yang sudah mulai hujan dan angin yang tidak menentu dapat mempengaruhi nelayan untuk memperoleh tangkapan ikan, dan produksi sektor pertanian akibat cuaca ekstrim,” tutupnya.[sg_popup id=”18″ event=”onload”][/sg_popup]

Reporter: Waty
Editor: Jubirman

Terkini