Para ilmuwan memperingatkan, Senin (22/7), jenis-jenis (strains) parasit malaria yang resisten atau kebal terhadap dua obat anti malaria utama makin dominan di Vietnam, Laos, dan bagian utara Thailand, setelah menyebar dengan cepat dari Kamboja.
Seperti dilaporkan oleh Reuters, dengan menggunakan pengamatan genomik untuk melacak malaria yang resisten pengobatan, para ilmuwan menemukan parasit malaria jenis KEL1/PLA1 juga sudah berevolusi dan menyerap mutasi genetik baru yang membuatnya makin kebal terhadap berbagai obat-obatan.
“Kami mendapati (parasit) sudah menyebar secara agresif, menggantikan parasit-parasit malaria lokan dan menjadi tipe dominan di Vietnam, Laos dan di timur laut Thailand,” kata Roberto Amato, yang bekerja sama dengan satu tim dari Institut Wellcome Sanger Inggris, Universitas Oxford, dan Universitas Mahidol di Thailand.
BACA JUGA :
- Buka Turnamen Kapolda Sultra Cup Basketball Competition 2026, Himawan Bayu Aji : Wadah Lahirkan Bibit Atlet Berprestasi
- Silaturahmi ke Lanud Halu Oleo, Polda Sultra Perkuat Soliditas
- Pakai Busana Adat saat HUT IKWI ke 65, IKWI Sultra Masuk Juara
- BREAKING: ADV ASPIN S.H., M.H BANTAH KERAS PT SJAP “PLASMA 20% SEJAK 2023 TIDAK PERNAH SAMPAI KE WARGA WAWOONE!
- Kapolda Sultra Silaturahmi ke Kejaksaan Tinggi Sultra guna Perkuat Sinergi Penegakan Hukum
- Gubernur Andi Sumangerukka Dianugerahi Sangia Mondono Wite Bhalano pada Silaturahmi Akbar KKMM Sultra
Malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium yang dibawa oleh nyamuk dan menyebar lewat gigitan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan hampir 220 juta orang terinfeksi malaria pada 2017, dan sekitar 400 ribu di antaranya meninggal. Sebagian besar kasus infeksi dan kematian terjadi pada bayi dan anak-anak di sub-Sahara Afrika.
Malaria bisa sembuh total dengan pengobatan jika didiagnosis dini. Namun, resistensi terhadap obat-obatan anti-malaria makin marak di banyak kawasan di dunia, terutama di Asia Tenggara.
Pengobatan pertama malaria yang diterapkan di banyak tempat di Asia dalam satu dasawarsa terakhir adalah kombinasi Dihidroartemisinin dan Piperakuin, atau dikenal dengan singkatan DHA-PPQ.
Para peneliti mendapati dalam penelitian sebelumnya bahwa satu jenis parasit malaria sudah berevolusi dan menyebar di seluruh Kamboja antara 2007 dan 2013. Hasil penelitian terbaru itu, yang dipublikasikan di jurnal The Lancet Infectious Diseases, mendapati jenis parasit malaria itu sudah menyebar melintas batas negara dan memperkuat cengkeramannya.
“Kecepatan penyebaran parasit-parasit anti pengobatan malaria itu di Asia Tenggara sangat mengkhawatirkan,” kata Olivo Miotto, yang memimpin penelitian.
“Obat lain mungkin efektif saat ini, tapi situasinya sangat rentan dan studi ini menyoroti tindakan cepat diperlukan,” katanya. [ft]











