Reporter : Jaspin
Editor : Kang Upi
KONAWE – Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra) mendorong mengembangkan ekonomi masyarakat dengan mengelola sumber daya alam (SDA) menggunakan teknologi tepat guna (TTG).
Namun sayangnya, penerapan TTG yang sudah digagas sejak lama ini seakan jalan ditempat, karena adanya sejumlah kendala, seperti minimnya anggaran, ketiadaan tenaga ahli serta cakupan wilayah yang luas.
Baca Juga :
- GERAK-SULTRA Bakal Kawal Penertiban Aset Pemprov Sultra, 800 Temuan BPK RI Jangan Dibiarkan Mengendap
- HMI Untuk Bangsa atau Sekedar Untuk Gerbong?
- Kapolda Sultra Buka Ruang Kritik Pers, Dorong Pemberitaan Akurat untuk Jaga Kamtibmas
- Direktur Penyidikan Jampidsus Dikonfirmasi Penindakan Hukum Terkait Sanksi Satgas PKH Rp2,19 Triliun terhadap Istri Gubernur Sultra ASR Belum Merespons
- Perubahan APBD 2026 Sultra Fokus Perkuat Pelayanan Dasar dan Pembangunan Daerah
- Kejati Sultra Akui Geledah Rumah Direktur PT WNN Hasil Tambang Nikel di Kolaka, LMP Desak Bongkar Hasil Penyitaan
“Kami terkendala anggaran yang sangat minim. Sehingga kami tidak mampu berbuat sesuai harapan para petani,” ungkap Kabid Pengembangan Perekonomian Masyarakat, SDA dan TTG, Wahid, SP., MM, saat di Konfirmasi di ruang kerjanya, Selasa (9/4/2019).
Sejauh ini, kata Wahid, kegiatan di bidangnya, hanya mengandalkan anggaran dari APBD. Untuk itu, pihaknya telah mengusulkan penganggaran program TTG tersebut melalui Musrembang Provinsi.
“Tahun ini saya sudah usulkan melalui Musrembang, agar bisa diakomodir nantinya,” tambah Wahid, saat ditemui diruangannya.
Ia juga menyebutkan, untuk kendala anggaran ini telah dialami sejak lama. Bahkan, di tahun 2018 lalu, anggaran di bidangnya hanya dicairkan sebagian, sehingga program TTG kembali terkendala.
Untuk itu, melalui Dana Desa (DD), pihaknya juga meminta Kepala Desa bisa berkoordinasi dengan DPMD untuk mengsingkronkan program TTG agar membuat desa menjadi lebih inovasi dan kreatif.
“Saya menekankan agar kepala desa lebih mampu berinovasi, dan mampu mengembangkan sesuai anggaran DD yang telah ada,” ujarnya.
Menurutnya, program TTG tersebut bakal diwujudkan dalam bentuk pembinaan dan pelatihan bagi masyarakat tentang cara mengolah potensi SDA menggunakan teknologi yang sesuai. Dicontohkan, jika desa memiliki potensi buah pisang melimpah, maka akan diberikan alat pengiris pisang untuk kripik, begitu juga di desa lainnya.
“Kalau potensinya persawahan maka kita akan memberikan alat pembasmi tikus. Selain itu, ada juga yang namanya sistem pengolahan, sistem legowo, dengan cara tanam padi,” pungkasnya. (A)











