oleh

Rustam Fachri Mantan Wartawan di Los Angeles yang Kini Jadi Penguji UKW LPDS

-NEWS-417 dibaca

KENDARI, MEDIAKENDARI.COM – Rustam Fachri penguji Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) rupanya memiliki banyak kisah menarik di dunia Kuli Tinta.

Mantan Wartawan Majalah Tempo ini ternyata pernah menjadi pewarta di Los Angeles (LA) sebagai koresponden Harian Jawa Pos tahun 1995 silam.

Alumni Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Gadjah Mada (UGM) ini sempat bercerita sekilas tentang lika-liku hidup sebagai seorang wartawan senior.

“Sebelumnya saya menjadi wartawan group Tempo Media, pernah menjadi koresponden hingga jadi wartawan tetap di sana,” beber Fachri saat diwawancarai awak media Mediakendari.com di Kendari, Minggu (30/10/22).

“Kemudian berkarir hingga akhirnya menjadi Kepala Biro Majalah Tempo di Yogyakarta. Tetapi waktu itu Tempo dibredel tahun 1994 hingga menjadi wartawan freelance di Jakarta,” sambungnya.

Baca Juga : PWI Sulawesi Utara Sesalkan Sikap Oknum Anggota Polres Tomohon Soal Penjemputan Paksa Wartawan

“Akan tetapi pada tahun 1995 mendapatkan kesempatan menjadi koresponden Harian Jawa Pos 1995 hingga 1997 di Los Angeles,” tambah pria yang berusia 65 tahun ini.

Kata dia, dirinya di LA Amerika Serikat itu hanya bertugas dua tahun karena krisis moneter yang melanda Indonesia di akhir kepemimpinan Orde Baru (Orba) Soeharto yakni tahun 1997.

“Krisis 1997, kantor meminta pulang karena tidak mampu membayar dengan dolar karena waktu itu dolar tinggi sekali . Saya pulang ke Jakarta kemudian berkarir di Majalah Detik dan Romantika yang dikelola oleh mantan wartawan Tempo dan kumpul lagi dengan orang-orang Majalah Tempo,” jelas bapak tiga anak ini.

Selanjutnya, 1998 Soeharto jatuh dan majalah Tempo terbit lagi sehingga dirinya kembali ke Tempo dengan jabatan terkahir di ke Redaksian sebagai Redaktur Pelaksana, kemudian Corporate Secretary dan Internal Ombudsman hingga pensiun 5 tahun lalu atau tahun 2017.

“Saat ini juga saya banyak berkegiatan di Dewan Pers, sebagai anggota kelompok kerja (Pokja) Dewan Pers khususnya pengaduan masyarakat dan penegakkan etika pers, pernah juga sebagai tenaga ahli di Dewan Pers,” ungkap pria berkacamata ini.

Baca Juga : Tingkatkan Kompetensi dan Life Skills, Pemprov-UHO Gelar Akademik Konferensi Internasional

“Sekarang saya sambil menjadi penguji wartawan di LPDS sejak 3 tahun lalu,” jelas Rustam.

Pengalaman apa yang paling menyedihkan selama menjadi wartawan?

Menurutnya, yang paling susah untuk dilupakan dan menyedihkan adalah ketika Majalah Tempo di Bredel oleh Orba tahun 1994.

“Yang paling sedih itu ketika Majalah Tempo dibredel padahal lagi menikmati prosesnya secara lahir, ekonomi kita lagi produktif dan sejahtera dibredel sehingga kehilangan pekerjaan yang menyenangkan,” katanya.

Pengalaman apa yang paling menyenangkan selama menjadi wartawan?

Kata dia, menjadi wartawan adalah salah satu jembatan untuk berkelana tanpa menghabiskan uang pribadi.

Baca Juga : Jurusan Sastra Prancis UHO Didik Mahasiswa Jadi Pemandu Pariwisata

“Tujuan saya menjadi wartawan adalah bisa berkunjung ke mana-mana secara gratis. Ini menurut saya yang paling menyenangkan ya,” jelas Rustam.

Bagaimana kisah anda selama menjadi wartawan di LA Amerika Serikat?

Menurut Rustam, ke LA adalah tindakan yang terbilang agak nekat. Karena dirinya yang berani bertarung sebagai seorang wartawan di luar negeri.

“Waktu itu, kemampuan saya belum memadai tetapi karena keadaan dan kesempatan untuk mengembangkan diri jadi saya ambil saja,” ucap pria yang anak terakhirnya lahir di Los Angeles dan kini bertugas di Wakatobi ini.

“Tantangan menjadi wartawan di luar negeri kadang event tidak gampang diikuti, konten yang kita kejar lebih ke sport dan hiburan karena memang media kita di Indonesia. Jadi saya liput tinju karena tidak semua bisa dijangkau. Lumayan banyak hal-hal yang bisa digali di sana,” tukas Rustam.

Reporter : Rahmat R.

Facebook : Mediakendari