oleh

Keberanian Pemuda Keraton Buton Bersentuhan dengan Virus Corona

Reporter : Ardilan

BAUBAU – Punya tekad keberanian, mungkin kata itu lah yang pantas disematkan ke pemuda Keraton Buton itu.

Berbekal modal keberanian, Mahdun Yusuf ikut melamar relawan Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 non tenaga medis bentukan Pemerintah Kota (Pemkot) Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra) pada bulan September 2020 lalu.

Pemuda yang akrab disapa Adun ini melihat peluang relawan Covid-19 untuk lebih dekat ke impiannya yang memiliki angan-angan menjadi petugas tenaga kesehatan (Nakes) suatu hari nanti.

Tak berpikir panjang, ia pun mengikuti proses pendaftaran relawan Covid-19. Salah satu syaratnya tentu, calon relawan wajib di rapid test.

Disaat sebagian besar masyarakat khawatir hingga takut untuk melakukan rapid test, ia tetap tenang dan santai. Hasilnya, ia dinyatakan non reaktif oleh petugas medis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Palagimata.

“Waktu itu hasil rapid test saya keluar dua jam setelah saya di rapid. Alhamdulillah hasilnya saya dinyatakan non reaktif. Saya kemudian melengkapi berkas persyaratan lain. Setelah mengikuti serangkaian proses, saya pun diterima sebagai relawan Covid-19,” kata Adun yang telah menjadi relawan Covid-19 Kota Baubau, ditemui wartawan MEDIAKENDARI.Com, Sabtu 07 November 2020.

Pemuda yang lahir dan besar di kompleks Benteng Keraton Buton itu sejak dini memang sudah ditempah agar menjadi pribadi bermental kuat, keras dan kokoh layaknya struktur Benteng terluas di dunia itu. Dirinya yakin bersentuhan langsung dengan virus mematikan yang sudah mengglobal itu bukan sesuatu hal yang menakutkan.

Yang perlu dilakukan, kata Adun, yakni menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. RSUD Palagimata juga menjamin keamanan dan kenyamanan relawan Covid-19 dengan menyiapkan segala perlengkapan seperti memakai masker, hand sanitizer, baju pelindung lengkap dengan pelindung wajah (Face Shild) maupun suplemen vitamin.

Adun ditempatkan sebagai relawan Covid-19 dibidang evakuator. Tugasnya yaitu mengantar pasien yang terpapar Covid-19 ke instalasi gawat darurat (IGD) atau pun ruang isolasi. Selain itu juga, tugasnya membawa dan mengambil hasil pemeriksaan darah, ront gen di laboratorium RSUD Palagimata.

“Kalau mengantar pasien reaktif Covid-19 dari IGD, saya pakai baju alat pelindung diri (APD). Kalau masuk kerja, saya pakai baju seragam khusus berbahan kain, tetapi bukan APD,” ujarnya.

Adun bilang relawan Covid-19 juga memiliki baju yang disebut level dua yang dilapisi lagi dengan baju apron yang berbahan plastik untuk mengantar pasien. Tapi kalau selesai baju itu langsung dilepas kembali.

Ia cukup menikmati pekerjaannya itu. Ibunya yang sehari-hari bekerja sebagai penjual nasi kuning juga mendukung penuh dirinya. Ia merasa tak perlu risih menjalani pekerjaan yang terbilang menakutkan itu. Memasuki bulan ketiga sebagai relawan, Adun tampak enjoy.

Adun bercerita relawan Covid-19 bidang Evakuator bekerja dengan sistem rolling dengan aturan dibagi per ship enam jam. Jadwalnya kerjanya sendiri terhitung enam hari kerja dalam satu pekan yang berarti ia punya waktu libur sehari dalam seminggu.

Jika dikumulatifkan, waktu libur dalam sebulan ada empat hari. “Misalnya saya masuk jam 08.00 pagi berarti selesai kerja jam 02.00 siang,” tuturnya.

Walau begitu, Adun mengaku punya satu keluh kesah selama menjadi relawan Covid-19. Ia pernah nyaris pingsan saat mengevakuasi pasien positif Corona. Saat itu, ia memakai baju APD lengkap.

“Hampir dua jam saya pakai APD, rasanya panas sekali, hampir pingsan. Banjir keringat pokoknya. Saya antar pasien itu sudah tidak terhitung jumlahnya,” ungkapnya.

Terkini