Pementasan kreasi lagu Tana Wolio menggunakan angklung dalam rangkaian Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2019 tingkat Kota Kendari, yang digelar Kamis (5/9/2019) di Taman Kota (Tamkot).

Kerennya Alunan ‘Tana Wolio’ Versi Angklung Hasil Kreasi Paguyuban Pasundan Sultra

Redaksi

KENDARI – Lagu ‘Tana Wolio’ merupakan salah satu lagu daerah asal Kepulauan Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara. ‘Tana Wolio’ sendiri berarti tanah Wolio, yang adalah nama lain dari Pulau Buton.

Lagu ini sempat viral di Indonesia tahun 2017 lalu, setelah dinyayikan finalis Dangdut Akademi 4 (DA4) Indosiar, Filadan Rahayu, yang adalah pemenang kompetisi tersebut, kelahiran Kota Baubau di Kepulauan Buton.

Secara tradisional, lagu ini biasanya dinyanyikan dengan iringan musik berupa gendang, kecapi, gong serta alat musik khas Buton lainnya. Lalu bagaimana jika lagu ini dimainkan dengan alat musik ‘angklung’ khas Jawa Barat ?

Adalah kreasi Paguyuban Pasundan Sultra (PPS) yang sukses mementaskan dan mengalunkan irama lagu ‘Tana Wolio’ menggunakan angklung, yang diiringi alat musik khas Sunda lainnya.

Pementasan kreasi lagu dari Bumi Kesultanan Buton itu merupakan bagian dari rangkaian Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2019 tingkat Kota Kendari, yang digelar Kamis (5/9/2019) di Taman Kota (Tamkot).

Dibuka dengan penampilan tarian, dan lalu kedelapan pemain angklung yang sebagian besarnya adalah ‘emak-emak’ menyusul dan mengambil formasi di depan panggung untuk memainkan alat musik yang terbuat dari bambu itu.

Pementasan kreasi para emak yang berbalut jilbab pink, berkebaya hitam dan bawahan batik coklat ini cukup menyita perhatian pengunjung PKN 2019. Bahkan, pengunjung ikut bernyanyi ‘tana wolio’ yang liriknya memang sudah familiar di telinga masyarakat Sultra.

Sambil mengikuti iringan lagu, penonton juga tidak lupa mengabadaikan momen akulturasi budaya Buton – Sunda ini dengan merekam video dan mengambil foto para penampil diatas panggung.

Iringan alat musik angklung, hentakan pukulan gendang dan alunan musik instrumental modern berpadu melengkapi apiknya pementasan tersebut, sehingga membuahkan standing aplouse yang meriah dari penonton.

PPS dalam pementasannya tersebut membawakan dua buah lagu yakni Tana Wolio dan Halo-Halo Bandung yang seluruhnya dilantunkan menggunakan angklung, dan diiringi alat music tradisional sunda lainnya.

Ditemui mediakendari.com, Sekretaris Umum PPS Ansor Sufirman mengungkapkan bahwa lagu Tana Wolio sengaja dipilih untuk menyimbolkan bahwa warga Sunda sudah merupakan bagian yang tidak terpisah dari masyarakat Sultra.

“Jadi apa yang menjadi kekayaan budaya di Sultra, itu juga kami anggap sebagai kekayaan budaya bagi kami juga. Jadi ini juga bentuk dukungan bagi Pemda untuk pengembangan budaya,” kata Ansor.

Menurutnya, PPS merupakan mitra pemerintah baik provinsi maupun kota dan kabupaten se Sultra, dalam menjembatani komunikasi khususnya kebijakan pemerintah dengan warga pasundan di Sultra.

“Jadi partisipasi PPS di Pekan Kebudayaan ini merupakan bentuk dan wujud atas dukungan warga pasundan untuk pemerintah daerah,” ungkapnya.

Menurutnya juga, PPS hingga sejauh ini telah tiga kali menampilkan budaya Sunda dalam berbagai kesempatan event yang digelar Pemda di Sultra. Untuk para penampilnya, kata dia, merupakan para ibu dari berbagai latar belakang dan profesi.

“Kalo ibu-ibu yang tampil sebenarnya tidak punya latar belakang kesenian seni, tetapi komitmen untuk melestarikan budayalah yang mendorong untuk semangat untuk berlatih, jadi bisa tampil secara baik,” terangnya.

Meski demikian, lanjutnya, pembinaan seni di PPS merupakan salah satu agenda yang saat ini tengah akan diwujudkan dalam bentuk pendirian Sanggar Seni untuk berlatih kebudayaan sunda.

“Jadi nanti generasi muda pasundan atau masyrakat umum bisa belajar alat music angklung, calung, dan ada juga rampak gendang dan masih banyak lagi,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan, untuk anggota PPS saat ini sekitar 60 ribuan yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota se Sultra. Sedangkan, khusus untuk di Kota Kendari ada 220 orang.

“Tapi kalau untuk kepengurusan PPS baru di level provinsi, sedangkan di daerah kabupaten dan kota kami masih dalam konsolidasi untuk pembentukannya,” tambahnya.

Sementara itu, Wali Kota Kendari Sulkarnain Kadir, melalui Asisten I Setda Pemkot Kendari, Makmur dalam sambutan pembukaan PKN 2019 menyatakan, bahwa Pemkot mendukung usaha pelestarian budaya.

Baca Juga:

“Pemkot Kendari akan melakukan pendataan untuk mendukung kelestarian budaya majemuk masyarakat yang berasal dari berbagai etnis yang ada di Kota Kendari,” paparnya.

Ia juga menyebutkan, PKN 2019 ini melibatkan tujuh paguyuban budaya dari berbagai latar belakang etnik yang ada di Kota Kendari, yang akan menampilkan berbagai kreasi dan kekayaan budayanya.

“Paguyuban yang terlibat dalam PKN 2019 ini yakni diantarany, paguyuban Tolaki, Bali, Bugis, Sunda, Jawa, Gorontalo, Muna dan Muna barat,” urainya

error: Content is protected !!