SLB Negeri 2 Kendari Mencoba Lebih Mengembangkan Batik Ciprat

NEWS519 dibaca

KENDARI, MEDIAKENDARI.COM – SLB Negeri 2 Kendari mengembangkan kreatifitas siswanya melalui kewirausahaan, salah satunya batik ciprat.

“2023 kita akan lebih meningkatkan kegiatan ekstrakurikuler, bidang agama juga, sebenarnya ekstrakurikuler ini sudah berjalan seperti batik ciprat, sudah banyak pesanan semacam event-event, ulangtahun kota bahkan tingkat provinsi, HDI (Hari Disabilitas Internasional), jdi event inilah yang membuat ramai pesanan, sehingga akan kita tingkatkan di tahun 2023,” ungkap Kepala Sekolah SLB Negeri 2 Kendari, Sri Mulyati.

Sri mengaku SLB 2 Kendari untuk pertama kalinya juga telah melaksanakan kegiatan Jambore di tahun 2022 dan itu merupakan pencapaian yang luar biasa untuk sekolah.

Baca Juga : Pemkot Kendari Rencanakan Tata Kawasan Bersejarah di Kilometer Nol Kendari

“Jadi titik kumpul se-kota Kendari itu memang di SLB Negeri 2 Kendari, tapi setiap kabupaten juga mengadakan kegiatan pramuka masing-masing, sehingga dibidang pramuka juga kita akan meningkatkan prestasi lagi,” ungkap Sri.

Sri menerangkan pihaknya juga merencanakan untuk membuat wirausaha yang lain yaitu terbuat dari bunga, juga semacam kipas dari bambu yang akan dipasangkan dengan batik ciprat sehingga bisa membantu para murid untuk lebih kreatif.

“Jadi baru rencana. Kita juga ingin membuat wirausaha dibagian bunga, kaya bunga plastik yang kita rangkai, terkhusus untuk anak tunagranita ringan dan tunarungu, agar mereka lebih kreatif dan bisa banyak belajar,” ujarnya.

Sri mengklaim batik ciprat hasil produksinya terbilang laris karena banyaknya pesanan ditingkat sekolah-sekolah maupun dinas-dinas terkait.

Baca Juga : Jumat Curhat, Kapolresta Kendari Banting Domino

“Alhamdulillah batik ciprat kami ini sudah kemana-mana. Kemarin SMK di Raha, staf dinas juga beberapa sudah memesan, sudah jadi langganan. Jadi memang kita perlu tingkatkan produksi,” katanya.

Ia menambahkan pihaknya fokus memberdayakan semua siswa-siswanya tanpa terkecuali. Seperti halnya tunanetra akan lebih fokus peningkatan untuk keagamaannya, atau lebih ke dunia seni. Sedangkan tunarungu lebih kepada menjahit, untuk tunagrahita lebih kepada membatik.

“Kalau pembelajaran sebenarnya sama dengan pembelajaran pada umumnya. Cuman kita melihat lagi kemampuan anak bisa menangkap pelajaran dikelas seperti apa, jadi kita tidak menuntut mereka untuk cepat paham dengan pelajaran. Tapi secara perlahan-lahan. Jadi kami seimbang 50:50 untuk belajar dan berwirausaha,” ungkapnya.

Reporter : Nur Anisah

Facebook : Mediakendari