oleh

HIPTI Sultra Bakal Bangun Ekonomi Daerah dengan Kearifan Lokal Kalosara

-NEWS-183 dibaca

KENDARI – Ketua Himpunan Pengusaha Tolaki Indonesia (HIPTI) Sultra, Rusmin Abdul Gani, mengatakan hadirnya lembaga ini bisa meningkatkan kepercayaan investor dan penanam modal untuk berinvestasi di Sultra. HIPTI menyiapkan karpet merah untuk menjemput investasi dalam mengembangkan dan memajukan Sultra.

Hal ini karena mengingat, Sulawesi Tenggara (Sultra) merupakan salah satu penopang kegiatan ekspor Indonesia. Provinsi ini merupakan salah satu daerah yang menjadi daerah pengekspor batu bara berupa nikel. Nilai ekspor Sultra yang mayoritas adalah nikel telah mencapai dari 40% dari total ekspor.

Menurut data ekspor Dinas Industri perdagangan sultra menunjukkan bahwa dari volume ekspor seluruhnya sekitar 9,171 ton sekitar 40% lebih merupakan ekspor nikel. Bahwa pertambangan menjadi salah satu produk terbesar pengekspor untuk Provinsi dengan ibukota Kendari ini. Walaupun banyak yang tak mengetahui, namun Sultra merupakan daerah yang sangat penting bagi komoditas ekspor Indonesia. Provinsi ini mengekspor berbagai macam produk tidak hanya hasil perkebunan, kehutanan manufaktur dan kelautan dan juga mengekspor produk pertambangan.

Pria yang akrab disapa RAG ini menuturkan, HIPTI juga membuka diri dalam membangunkomunikasi kepada semua pihak, baik pemerintah maupun investor lain untuk dapat berinvestasi secara aman dan nyaman di Sulawesi Tenggara dengan tetap memuliakan kearifan lokal (alam, masyarakat,dan budaya).

Baca Juga : Sejak 2018, Empat Sektor di Konawe Tumbuh Positif

“Hadirnya HIPTI dengan mengusung kearifan lokal telah menumbuhkan kepercayaan dari teman-teman investor dan penanam modal dari luar sultra dan masyarakat –masyarakat Stakeholder baik itu pemilik lahan maupun pemilik bisnis didalam sultra itu sendiri,” katanya, saat ditemui awak media di Kantor PB HIPTI, Jumat (29/07/22).

Mantan Bendahara DPD I Partai Golkar Provinsi Sulawesi Tenggara itu mengatakan, HIPTI bisa semakin meningkatkan kepercayaan investor sehingga peluang-peluang usaha baik itu yang masuk melalui laut sultra maupun potensi sumber daya alam sultra bisa dikelola lebih maksimal. Sehingga HIPTI mengajak seluruh masyarakat Sulawesi Tenggara agar bisa bersama-sama HIPTI untuk bisa meningkatkan kapasitas pengetahuan terkait peluang dan pengelolaan bisnis SDA di Sultra.

“SDA yang dimiliki Sulawesi Tenggara cukup melimpah dan investasi juga banyak yang masuk sehingga multi efek bisnisini sangat luas, baik itu bisnis kuliner, logistic, digital, dan bisnis lainnya. Saya kira peluang bagi kita untuk memanfaatkan itu. Sehingga kami dari HIPTI membuka ruang untuk masyarakat Sultra untuk sama sama meningkatkan kapasitas dalam rangka menyonsong dan menghadapi peluang –peluang bisnis yang ada di Sultra ini,” beber Wakil Ketua Bidang Perindustrian DPD Golkar Sultra

Rusmin mengatakan, HIPTI dengan mengusung kearifan lokal ini budaya asli Suku Tolaki, telah menanamkan falsafah Kalosara sebagai falsafah hidup pengusaha Tolaki yang nantinya diharapkan akan menjadi pedoman dalam berbisnis dan bermasyarakat. Kata dia, secara historis Kalosara merupakan landasan dasar dari keseluruhan sistem sosial budaya Suku Tolaki termasuk kepemimpinan, kaidah-kaidah hidup bermasyarakat, sistem norma,sistem hukum dan aturan-aturan lainnya.

Dalam kehidupan sosial budaya sehari-hari secara umum baik merupakan rakyat biasa, sebagai seorang tokoh formal maupun nonformal, nilai-nilai kepemimpinan yang terkandung dalam adat kalosara berintikan persatuan dan kesatuan, keserasian dan keharmonisan, keamanan dan kedamaian. Lambang kalosara juga menjadi landasan kultural bagi setiap individu dalam menciptakan suasana kehidupan bersama yang aman damai serta dalam menegakkan aturan baik berupa hukum adat maupun hukum negara.

Rusmin menegaskan khususnya pengusaha lokal sangat mensakralkan Kalosara, sehingga Falsafah Kalosara bisa menjadi benteng investor luar Sultra dan investor lokal dalam membangun kepercayaan dan komitmen dengan mitra-mitra bisnisnya.

Baca Juga : Prof B Kembali Dilaporkan Mahasiswi dan Staf Jurusan di UHO

“Saya yakin teman-teman yang betul-betul memahami dan memaknai Kalosara ini mereka tidak akan mungkin mengkhianati komitmen-komitmen yang mereka bangun dengan mitra-mitra bisnisnya.Karena kalau dia mengkhianati, secara ekonomi mungkin dia mengalami kerugian, tetapi kerugian yang paling besar adalah kerugian sanksi social masyarakat. Karena bisnis tanpa komitmen saya yakin siapapun tidak akan mau bekerjasama dengan pengusaha itu,” katanya.

Dikatakannya, saat ini Investor-investor dari luar Sultra sudah memahami konsep Kalosara ini. Sebab, para investor percaya konsep tersebut ,mereka percaya pengusaha Tolaki memiliki simbol konsep kalosara yang bisa membentengi mereka sehingga mereka bisa berinvestasi secara aman dan nyaman di Bumi Anoa.

Menurut dia, saat ini dunia sedang melirik Sulawesi Tenggara, sehingga hal ini bisa menjadi momentum untuk menyampaikan ke dunia bahwa di daratan Sultra ada Suku yang namanya Suku Tolaki. Meskipun begitu, HIPTI sangat terbuka dengan suku lain , karena Suku Tolaki menyadari tidak bisa bergerak sendiri mesti ada kolaborasi dan kerjasama dengan Suku lain. Olehnya itu, Kata Rusmin, HIPTI hadir untuk mengakomodir semua itu.

“HIPTI memberikan edukasi kepada mereka (Suku Tolaki,red) untuk bagaimana mengelola Sumber Daya Alam yang ada sehingga punya nilai tambah begitu juga dengan Suku lain silahkan masuk bergabung mentransformasi ilmu pengetahuannya dan modalnya untuk sama-sama memaksimalkan Sumber Daya Alam kita ini,” katanya.

Baca Juga : Pemkab Konawe Beri Perlindungan Pegawai Non ASN

Rusmin membeberkan pada Industri Pertanian dari komoditi Porang dan jagung, HIPTI Sultra telah membina perusahaan lokal untuk menjadi pengepul Komoditi Porang di Sultra. Perusahaan tersebut telah memiliki sertifikat telah memiliki kepercayaan dari pengusaha luar untuk menjadi pengepul Porang.

“Jadi memang semua proses ini butuh waktu,tak semudah kita membalikkan telapak tangan, apalagi mindset bisnis orang kendari ini mindset yang instan. Sementara untuk bisnis real seperti pertanian butuh waktu. Tetapi ketika ini kita jalani saya yakin ini akan berkelanjutan dan jangka panjang,” ucapnya.

Rusmin menambahkan, Ada potensi bisnis di Sultra yang sangat strategis yang jarang untuk dilirik, yaitu potensi bisnis kemaritiman. Industri yang ada di Sultra selama ini menggunakan transportasi laut. Melihat kondisi tersebut sehingga ada investor-investor besar yang ingin membangun Industri ‘Galangan Kapal’ di Sulawesi Tenggara.

“Ini peluang yang sudah ditangkap HIPTI, sehingga HIPTI juga sudah bekerjasama dan mengajukan permohonan kepada BLK untuk melatih anak-anak lokal sehingga bisa menjadi teknisi Las yang bersertifikat. Termasuk bisnis kemaritiman ini tidak hanya proses perbaikan dan pembuatan kapalnya saja, kita berharap nanti akan ada terbangun SMK dan Politeknik Kemaritiman di Sultra,” tukas Rusmin.

 

Reporter : Rahmat R.

Terkini