Dua Balita di Kalteng Stunting, Diduga Karena Konsumsi Air Mentah

NEWS348 dibaca

PALANGKARAYA – MEDIAKENDARI.COM: Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Provinsi Kalimantan Tengah dan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPSS) telah menyelesaikan Audit Kasus Stunting di Kabupaten Sukamara.

Dari hasil Audit Kasus Stunting tersebut, ditemukan dua balita di Desa Karta, Kecamatan Sukamara, Kabupaten Sukamara, menderita stunting. Salah satu faktor penyebab stunting dari hasil audit itu adalah sebagian besar masyarakat yang kerap meminum air mentah atau air tanpa dimasak terlebih dahulu.

Pada Selasa (20/12/2022) Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BKKBN Perwakilan Kalimantan Tengah Dr. Dadi Ahmad Ruswandi bersama Ketua TPPS yang juga Wakil Bupati Sukamara Ahmadi mengunjungi Balita penderita stunting tersebut.

Dadi mengatakan kunjungan kepada keluarga berisiko stunting tersebut sebagai tindak lanjut dari Audit Kasus Stunting di Kabupaten Sukamara yang telah dilaksanakan pada bulan September dan Oktober lalu. Hasil Audit itu menurut Dadi perlu dilakukan monitoring dan evaluasi serta kunjungan lapangan.

“Saya berharap Tim Pendamping Keluarga bekerja sama dengan pakar dan ahli, agar benar-benar mendampingi dan memastikan semua sasaran yang berisiko stunting mendapatkan intervensi yang tepat sesuai faktor risiko,“ kata Dadi di Kabupaten Sukamara.

Saat ini, prevalensi stunting di Kabupaten Sukamara berada pada angka 24,7 persen. Prevalensi ini berada pada urutan keempat terendah dari 14 kabupaten/kota.

Berdasakan Audit Kasus Stunting, Balita penderita stunting diidentifikasi penyebab risiko yaitu ibu dan ayah merokok, mengonsumsi air mentah, sanitasi yang kurang baik, banyakya jumlah anggota di rumah, ibunya memiliki riwayat Kekurangan Energi Kronis (KEK), ibu tidak telaten memberi makanan pada anak, faktor ekonomi yang kurang, rumah kurang pencahayaan, tidak memiliki jamban dan air bersih.

Hasil Pendataan Keluarga tahun 2021 (PK-21) BKKBN mencatat jumlah keluarga di Kabupaten Sukamara adalah 13.111 keluarga terdata. Dari jumlah tersebut, sebanyak 5.041 keluarga berisiko stunting. Sebanyak 1.291 keluarga memiliki baduta (0 – 23 bulan), sebanyak 2.553 keluarga memliki balita (24 – 59 bulan), dan sebanyak 395 ibu hamil.

Berdasakan Sensus Penduduk Indonesia 2021, Kabupaten Sukamara berpenduduk 63.464 jiwa.

Berdasarkan hasil audit kasus stunting dan monitoring, kedua balita risiko stunting dengan Indikasi dan penyebab risiko karena mainutrisi berkaitan dengan asupan energi dan protein yang kurang ditandai dengan berat badan tampak kurus (BB/U) gizi kurang dan pendek, terpapar rokok, ibu melahirkan masuk pada risiko tinggi dengan usia 42 tahun, jarang mengkonsumsi protein hewani dan nabati.

Dalam kunjungan ini sekaligus dilakukan penyerahan bantuan paket kebutuhan pokok untuk menunjang kebutuhan gizi keluarga dari BKKBN Provinsi Kalimantan Tengah berupa beras, telur, minyak goreng, dan biskuit

Di sela kunjungan, Walik Bupati Sukamara Ahmadi menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Sukamara melului Tim Percepatan Penurunan Stunting memiliki tugas untuk menagganni permasalahan stunting ini secara bersama-sama dengan para lintas sektok terkait.

“Hal ini menjadi komitmen saya Selaku Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) untuk menanggulangi serta melakukan turun langsung ke lapangan guna melihat dan memberi edukasi kepada keluarga risiko stunting sehingga nantinya permasalahan stunting bisa tuntas, “ kata Ahmadi.

Sementara itu Kades desa Karta Mulia Bapak Aman yang hadir dalam kunjungan ini mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah berkenan berkunjung kepada warganya yang beresiko stunting untuk memberikan semangat dan bantuan untuk kesembuhan warganya dari stunting.